Pohon penahan tsunami di Padang banyak mati meranggas
Senin, 17 Juni 2019 4:31 WIB
Cemara udang yang ditanam di Pantai Padang, Sumatera Barat untuk antisipasi guna mengurangi efek gelombang tsunami banyak yang mati meranggas. (ANTARA SUMBAR/ Miko Elfisha)
Padang (ANTARA) - Pohon cemara udang yang ditanam dalam program sejuta pohon di sepanjang pantai Padang, Sumatera Barat banyak mati meranggas.
Dari pantauan di Pandang, Minggu, ribuan bibit pohon itu hanya sebagian kecil saja yang masih bertahan dan tumbuh, sementara yang lain mengering seolah tidak terawat dengan baik setelah proses tanam.
Selain itu banyak pula bibit pohon itu yang dihanyutkan ombak karena gelombang tinggi yang terjadi seminggu terakhir.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Erman Rahman di Padang, Minggu tidak menampik terjadinya hal tersebut. Namun menurut dia bibit pohon itu masih bisa disisip kembali agar tumbuh sesuai dengan harapan.
"Program tanam sejuta pohon ini tidak berhenti, terus berlanjut. Bibit pohon yang mati itu nanti kita sisip lagi dengan bibit yang baru," ujarnya Minggu.
Erman menyebut akan segera meninjau bibit pohon cemara udang yang telah ditanam pada beberapa lokasi pada kabupaten dan kota yang terletak di pinggir pantai di Sumbar.
Hal itu sekalian untuk memastikan nantinya bibit yang mati diganti dengan bibit baru sehingga bisa tumbuh dengan baik, tambahnya.
Penanaman cemara udang dalam program sejuta pohon tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi potensi bencana di daerah.
Pohon jenis itu ditengarai bisa menjadi "benteng alami" yang bisa menahan gelombang tsunami sehingga tidak langsung mencapai daratan dan pemukiman warga.
Sumbar yang rawan gempa dan menyimpan potensi tsunami menjadi salah satu pusat pelaksanaan program itu. Ribuan pohon telah ditanam pada tujuh kabupaten dan kota yang berada di pinggir pantai, ujarnya.
Program itu akan terus dilanjutkan hingga cemara udang itu bisa tumbuh dan benar-benar menjadi benteng bagi daratan, tambahnya.
Dari pantauan di Pandang, Minggu, ribuan bibit pohon itu hanya sebagian kecil saja yang masih bertahan dan tumbuh, sementara yang lain mengering seolah tidak terawat dengan baik setelah proses tanam.
Selain itu banyak pula bibit pohon itu yang dihanyutkan ombak karena gelombang tinggi yang terjadi seminggu terakhir.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Erman Rahman di Padang, Minggu tidak menampik terjadinya hal tersebut. Namun menurut dia bibit pohon itu masih bisa disisip kembali agar tumbuh sesuai dengan harapan.
"Program tanam sejuta pohon ini tidak berhenti, terus berlanjut. Bibit pohon yang mati itu nanti kita sisip lagi dengan bibit yang baru," ujarnya Minggu.
Erman menyebut akan segera meninjau bibit pohon cemara udang yang telah ditanam pada beberapa lokasi pada kabupaten dan kota yang terletak di pinggir pantai di Sumbar.
Hal itu sekalian untuk memastikan nantinya bibit yang mati diganti dengan bibit baru sehingga bisa tumbuh dengan baik, tambahnya.
Penanaman cemara udang dalam program sejuta pohon tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi potensi bencana di daerah.
Pohon jenis itu ditengarai bisa menjadi "benteng alami" yang bisa menahan gelombang tsunami sehingga tidak langsung mencapai daratan dan pemukiman warga.
Sumbar yang rawan gempa dan menyimpan potensi tsunami menjadi salah satu pusat pelaksanaan program itu. Ribuan pohon telah ditanam pada tujuh kabupaten dan kota yang berada di pinggir pantai, ujarnya.
Program itu akan terus dilanjutkan hingga cemara udang itu bisa tumbuh dan benar-benar menjadi benteng bagi daratan, tambahnya.
Pewarta : Miko Elfisha
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BKSDA Sumbar terima anak trenggiling usai masuk ke tambak udang di Agam (Video)
01 July 2025 14:56 WIB
Tak punya lahan luas bukan kendala untuk kembangkan benih udang vaname
16 February 2025 17:29 WIB, 2025