Caracas (ANTARA/AFP) - Menteri Luar Negeri Venezuela Elias Jaua, Selasa, melontarkan tuduhan bahwa Amerika Serikat sebelumnya telah berencana menggulingkan mendiang presiden Venezuela Hugo Chavez. Jaua juga membantah bahwa keputusan AS untuk mengusir dua diplomat Venezuela setelah Karakas memerintahkan pengusiran terhadap dua pejabat militer AS sebagai tamparan "balasan". Kedua pejabat AS itu diusir Selasa lalu, tidak lama sebelum Wakil Presiden Nicolas Maduro mengumumkan meninggalnya Chavez. Pada Sabtu lalu, Washington menyatakan bahwa sekretaris kedua kedutaan besar Venezuela, Orlando Jose Montanez, dan pejabat konsuler Victor Camcaro, keduanya bekerja di New York, telah dimasukkan ke dalam daftar "persona non grata" (orang yang tidak diinginkan keberadaannya) dan meminta keduanya untuk meninggalkan Amerika Serikat. Perintah itu dikeluarkan AS hanya 24 jam setelah berlangsungnya upacara pemakaman Chavez, sang pemimpin anti-AS yang meninggal setelah berjuang melawan kanker. Dalam wawancara dari Washington dengan televisi resmi VTV, Jaua mengatakan kedua kasus itu tidak bisa dimasukkan dalam kategori "pembalasan". Justru, keputusan AS untuk mengusir kedua diplomat tersebut dianggap pemerintah Venezuela sebagai "pembalasan" oleh AS atas langkah diplomatik yang dilancarkan Venezuela dengan mengusir dua warga Amerika. "Tidak ada warga Venezuela yang mengontak para pejabat angkatan darat AS untuk mengorganisir kudeta terhadap (Presiden Barack) Obama," kata Jaua, "seperti yang dilakukan para atase militer (Amerika)" terhadap Chavez. Sejak presiden Chavez memangku jabatan tahun 1999, Washington dan Caracas mengalami ketegangan dalam hubungan diplomatik. Mereka tidak menempatkan duta besar mereka di kedua ibu kota sejak tahun 2010. (*/sun)