Karzai Perintahkan Pasukan AS Keluar dari Provinsi Afghanistan
Senin, 25 Februari 2013 7:17 WIB
Kabul, (ANTARA/AFP) - Presiden Afghanistan Hamid Karzai hari Minggu memerintahkan pasukan AS keluar dari Wardak dalam waktu dua pekan karena mereka dianggap membuat keadaan menjadi tidak aman dan tidak stabil di provinsi bergolak yang berbatasan dengan Kabul itu.
"Pada pertemuan dewan keamanan nasional hari ini... Presiden Karzai memerintahkan kementerian pertahanan untuk mengusir pasukan khusus AS dari provinsi Wardak dalam waktu dua pekan," kata juru bicara presiden Aimal Faizi.
"Pasukan khusus AS dan kelompok-kelompok bersenjata ilegal yang dibentuk oleh mereka membuat keadaan tidak aman, tidak stabil, dan menganggu penduduk setempat di provinsi ini," katanya pada jumpa pers.
Pengumuman itu merupakan pukulan lain bagi wibawa koalisi pimpinan AS ketika mereka bersiap-siap menarik pasukan tempur dari Afghanistan pada akhir tahun depan.
Seorang juru bicara Pasukan AS di Afghanistan (USFOR-A) mengatakan, ia mengetahui pernyataan yang disampaikan oleh Faizi itu.
Menurut juru bicara itu, pasukan AS menanggapi secara serius tuduhan tersebut dan akan menyelidikinya.
Lebih dari 3.200 prajurit NATO, sebagian besar warga AS, tewas ketika membantu pemerintah Karzai dalam perang sejak Taliban digulingkan dari kekuasaan oleh invasi AS pada 2001, namun hubungan antara presiden Afghanistan itu dan AS sering dilanda masalah.
Karzai dan negara-negara Barat pendukungnya telah sepakat bahwa semua pasukan tempur asing akan kembali ke negara mereka pada akhir 2014, namun Barat berjanji memberikan dukungan yang berlanjut setelah masa itu dalam bentuk dana dan pelatihan bagi pasukan keamanan Afghanistan.
NATO bertujuan melatih 350.000 prajurit dan polisi Afghanistan pada akhir 2014 untuk menjamin stabilitas di negara itu, namun tantangan-tantangan tetap menghadang dalam proses peralihan itu.
Desersi, penugasan yang buruk dan semangat rendah termasuk diantara masalah utama yang menyulitkan para komandan NATO dan Afghanistan.
Serangan "orang dalam" oleh aparat keamanan Afghanistan terhadap rekan dan mentor NATO mereka telah menewaskan lebih dari 60 prajurit asing tahun ini, yang secara serius merongrong kepercayaan antara kedua pasukan tersebut.
Pada Oktober 2011, Taliban berjanji akan berperang sampai semua pasukan asing meninggalkan Afghanistan.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaida Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara dikirim ke Afghanistan untuk membantu pemerintah Kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Antisipasi curah hujan tinggi, Fadly Amran perintahkan semua jajaran siaga
02 January 2026 15:22 WIB
Bupati Padang Pariaman perintahkan jajaran 'standby' hadapi musim penghujan
30 September 2025 19:59 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018