150 titik panas terpantau di Sumatera, empat titik di Sumbar
Rabu, 12 September 2018 17:56 WIB
Ilustrasi kebakaran hutan. (ANTARA FOTO)
Pekanbaru, (Antaranews Sumbar) - Satelit Terra dan Aqua pada Rabu sore mendeteksi ada 150 titik panas yang menjadi indikasi awal kebakaran lahan dan hutan tersebar di Pulau Sumatera.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Antara dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Pekanbaru, ada delapan provinsi yang terdeteksi terdapat titik panas (hotspot). Provinsi Sumatera Selatan paling banyak dengan jumlah 77 hotspot.
Kemudian Provinsi Bangka Belitung ada 14 titik, Bengkulu 10 titik, Riau ada delapan titik, Sumatera Barat empat titik, Jambi tiga titik, dan Kepulauan Riau satu titik panas.
Delapan titik panas di Riau tersebar di lima daerah, yakni Kabupaten Indragiri Hulu ada tiga titik, Rokan Hilir dua titik, dan masing-masing satu titik di Bengkalis, Kepulauan Meranti dan Pelalawan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak dua titik memiliki tingkat keakuratan (level of confidence) di atas 70 persen sehingga bisa besar kemungkinan merupakan titik api kebakaran hutan dan lahan. Dua titik api itu terdapat di Kabupaten Indragiri Hulu dan Pelalawan.
BMKG juga mengeluarkan peringatan untuk Pemprov Riau bahwa ada dua daerah yang sangat rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla, karena mengalami hari tanpa hujan cukup panjang.
"Daerah yang lebih dari 10 hari tidak ada hujan berturut-turut antara lain Kecamatan Rantau Kopar di Kabupaten Rokan Hilir selama 13 hari, dan Kecamatan Ukui di Kabupaten Pelalawan selama 24 hari," kata Staf Analisa BMKG Stasiun Pekanbaru, Ardhitama, kepada Antara di Pekanbaru.
BMKG Pekanbaru memiliki 150 pos yang tersebar di Provinsi Riau untuk memonitor cuaca, salah satunya memantau hari tanpa hujan (HTH) terutama di daerah yang rawan terjadi Karhutla. Tujuannya sebagai informasi awal kepada pemerintah daerah untuk mencegah kebakaran di lahan gambut, yang apabila terbakar akan sulit untuk dipadamkan kecuali turun hujan.
"Informasi ini sebagai monitoring agar semua pihak waspada masih ada potensi kebakaran di lahan gambut," ujarnya.
Ia menjelaskan, secara umum Provinsi Riau sebenarnya sudah mulai memasuki masa peralihan ke musim penghujan sejak bulan Agustus dan akan berakhir sekitar Oktober 2018. Namun, kondisi di setiap daerah berbeda-beda sehingga masih ada terjadi HTH cukup lama di dua daerah di bagian Utara dan Selatan Riau tersebut.
"Ini lebih ke kondisi lokal. Di Rokan Hilir ada bagian yang sudah hujan, tapi ada juga yang belum hujan karena ini masih dalam kondisi peralihan. Jadi berbeda kecamatan saja akan berbeda kondisi hujannya," kata Ardhitama. (*)
Berdasarkan informasi yang dihimpun Antara dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Pekanbaru, ada delapan provinsi yang terdeteksi terdapat titik panas (hotspot). Provinsi Sumatera Selatan paling banyak dengan jumlah 77 hotspot.
Kemudian Provinsi Bangka Belitung ada 14 titik, Bengkulu 10 titik, Riau ada delapan titik, Sumatera Barat empat titik, Jambi tiga titik, dan Kepulauan Riau satu titik panas.
Delapan titik panas di Riau tersebar di lima daerah, yakni Kabupaten Indragiri Hulu ada tiga titik, Rokan Hilir dua titik, dan masing-masing satu titik di Bengkalis, Kepulauan Meranti dan Pelalawan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak dua titik memiliki tingkat keakuratan (level of confidence) di atas 70 persen sehingga bisa besar kemungkinan merupakan titik api kebakaran hutan dan lahan. Dua titik api itu terdapat di Kabupaten Indragiri Hulu dan Pelalawan.
BMKG juga mengeluarkan peringatan untuk Pemprov Riau bahwa ada dua daerah yang sangat rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla, karena mengalami hari tanpa hujan cukup panjang.
"Daerah yang lebih dari 10 hari tidak ada hujan berturut-turut antara lain Kecamatan Rantau Kopar di Kabupaten Rokan Hilir selama 13 hari, dan Kecamatan Ukui di Kabupaten Pelalawan selama 24 hari," kata Staf Analisa BMKG Stasiun Pekanbaru, Ardhitama, kepada Antara di Pekanbaru.
BMKG Pekanbaru memiliki 150 pos yang tersebar di Provinsi Riau untuk memonitor cuaca, salah satunya memantau hari tanpa hujan (HTH) terutama di daerah yang rawan terjadi Karhutla. Tujuannya sebagai informasi awal kepada pemerintah daerah untuk mencegah kebakaran di lahan gambut, yang apabila terbakar akan sulit untuk dipadamkan kecuali turun hujan.
"Informasi ini sebagai monitoring agar semua pihak waspada masih ada potensi kebakaran di lahan gambut," ujarnya.
Ia menjelaskan, secara umum Provinsi Riau sebenarnya sudah mulai memasuki masa peralihan ke musim penghujan sejak bulan Agustus dan akan berakhir sekitar Oktober 2018. Namun, kondisi di setiap daerah berbeda-beda sehingga masih ada terjadi HTH cukup lama di dua daerah di bagian Utara dan Selatan Riau tersebut.
"Ini lebih ke kondisi lokal. Di Rokan Hilir ada bagian yang sudah hujan, tapi ada juga yang belum hujan karena ini masih dalam kondisi peralihan. Jadi berbeda kecamatan saja akan berbeda kondisi hujannya," kata Ardhitama. (*)
Pewarta : FB Anggoro
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ketua Komisi VIII DPR salurkan bantuan ke tujuh titik bencana Tapanuli Selatan
21 December 2025 18:20 WIB
Salurkan CSR, PT BPP Pasbar bantu 26 titik penerangan lampu jalan di Sungai Aur
15 December 2025 16:20 WIB
Titik Lemah Penanganan Bencana: Revolusi Logistik untuk Ketangguhan Bangsa Hadapi Bencana
10 December 2025 16:49 WIB
Terpopuler - Regional
Lihat Juga
Personel Lanud Pangeran M Bun Yamin asah kemampuan melalui latihan aeromodeling
13 February 2026 18:37 WIB
Pesawat tempur Super Tucano dan F16 TNI AU uji coba pendaratan di jalan tol
11 February 2026 18:58 WIB
Truk pengangkut BBM pascaterbannya Jalan Lembah Anai ke jalur Sitinjau Lauik
07 February 2026 22:21 WIB