Karya Fiksi Mutakhir Butuh Riset
Rabu, 13 Februari 2013 15:56 WIB
Ilustrasi. (Antara)
Borobudur, Jawa Tengah, (Antara) - Novelis dan penyair Abidah El Khalieqy mengatakan karya fiksi mutakhir tetap membutuhkan proses riset dalam berbagai skala oleh penulisnya untuk memperdalam gagasan dan imajinasi.
"Riset untuk memperdalam, memantapkan apa yang sudah dipikirkan, untuk mengisi yang belum tahu, kemudian disinergikan antara riset dengan imajinasi. Riset untuk penguat dan pelengkap data atas karya fiksi," katanya setelah berbicara pada "Apresiasi Sastra Novel dan Puisi" di Rumah Buku Duniatera Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di Borobudur, Rabu.
Abidah yang juga penulis novel "Perempuan Berkalung Sorban" yang terbit pada 2001 itu mengatakan penulisan karya fiksi pada zaman dahulu cenderung mengandalkan imajinasi atau khayalan penulisnya.
Sejumlah karya fiksi muthakir yang masuk kategori "best seller", katanya, cenderung tidak lepas dari proses yang dijalani penulisnya melalui suatu riset.
Ia menjelaskan karya fiksi yang berdasarkan riset memberikan efek terhadap pembaca, antara lain menggerakkan pembaca untuk melakukan suatu perubahan atas suatu kondisi baik secara pribadi maupun kepentingan bersama.
"Karya sastra bisa menarik, kalau bersumber dari realitas sehari-hari, karya teks yang menggerakkan, memberi solusi, pencerahan. Untuk mencapai tujuan itu tidak bisa hanya berimajinasi, akan tetapi perlu riset, survei, observasi, wawancara, mengumpulkan data," kata peraih anugerah IKAPI dan Balai Bahasa Award (2008), serta Adab Award (2009) itu.
Abidah yang saat ini telah menghasilkan 12 novel itu mengakui bahwa karya-karya novelnya melalui tahapan riset.
"Berdasarkan hasil riset itu kemudian mendapat sentuhan sastra dan emosi penulisnya, kemudian memainkan imajinasi yang logis," katanya.
Pembicara lainnya dalam acara yang diikuti ratusan siswa dan guru SMP serta SMA di Kabupaten Magelang itu, adalah penyair, dosen, dan pengamat seni pertunjukan sastra Hamdy Salad.
Pada kesempatan itu, ia berbicara tentang membaca puisi yang baik, yang antara lain menyangkut pemahaman atas karya puisi, pengucapan, dan diksi.
"Penting harus diperhatikan dalam pembacaan puisi, adalah vokal, tempo, artikulasi, dan penghayatan," katanya. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sutradara "Train to Busan" Yeon Sang-ho kembali dengan film fiksi ilmiah "Jung_E"
30 December 2022 10:05 WIB, 2022
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018