Tripoli, (ANTARA/Xinhua-OANA) - Perdana Menteri Libya Ali Zaidan, Senin malam (11/2), mengatakan pemerintahnya memutuskan untuk menutup perbatasan dengan Mesir dan Tunisia. Perbatasan tersebut akan ditutup untuk sementara mulai 14 sampai 18 Februari kata Zaidan sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Selasa. Ia menambahkan masuknya pelancong melalui bandar udara Tripoli dan Benghazi juga akan dibatasi. Ia menyatakan keputusan itu adalah langkah pencegahan yang diambil guna menghindari sabotase yang mungkin dilakukan oleh antek bekas pemerintah atau mereka yang tak mengingini keamanan dan kestabilan di Libya. Tindakan tersebut juga dilakukan setelah seruan belum lama ini dari jejaring sosial dan Internet untuk berdemonstrasi secara damai pada 15 Februari. Upaya untuk menghidupkan kembali perekonomian Libya juga dilancarkan, saat beberapa menteri Libya bertemu pada Senin malam dengan kepala pengusaha Perancis. Beberapa sumber diplomatik mengatakan pembicaraan itu adalah hasil dari keprihatinan serius terhadap keamanan Libya, termasuk membanjirnya senjata dari tempat penyimpanan mantan presiden Muamar Gaddafi di seluruh negeri tersebut sejak runtuhnya rezim tokoh itu. Gerilyawan yang menguasai Mali tahun lalu adalah satu dari sejumlah pihak yang diduga mendapat manfaat dari penjarahan gudang senjata Gaddafi. (*/sun)