Padang, (Antara Sumbar) - Kepala perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat (Sumbar), Puji Atmoko mengemukakan kesejahteraan masyarakat yang bergerak pada lapangan usaha pertanian di provinsi itu mengalami peningkatan dilihat dari naiknya nilai tukar petani triwulan I 2017.


         "Secara rata-rata nilai tukar petani di Sumbar pada triwulan I 2017 mencapai 98,25 atau naik dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya 97,02," katanya di Padang, Kamis.


         Ia menjelaskan peningkatan nilai tukar petani tersebut menggambarkan adanya perbaikan kemampuan atau daya beli petani di pedesaan karena membaiknya harga komoditas Crude Palm Oil (CPO) dan karet.


         Perbaikan kinerja pertanian ditopang pula oleh kenaikan produksi tanaman perkebunan, khususnya kelapa sawit dan karet serta  kondisi cuaca yang kondusif  mendorong kenaikan harga  dan meningkatkan  permintaan yang  memberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi, ujarnya.


         Selain itu ia melihat kualitas hidup masyarakat Sumbar cenderung meningkat tercermin dari membaiknya Indeks Pembangunan Manusia yang artinya terjadi perbaikan pada ketimpangan atau ketidakmerataan ekonomi masyarakat.


         "Pada 2015 Indeks Pembangunan Manusia Sumbar berada pada status sedang, sementara pada 2016 naik menjadi status tinggi," katanya.


         Sementara Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Sukardi menjelaskan  nilai tukar petani  diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga dibayar petani, yang merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.


         Menurut dia nilai tukar petani juga menunjukkan daya tukar  dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.


         "Semakin tinggi nilai tukar petani maka semakin kuat pula kemampuan atau daya beli petani," kata dia. (*)