Dubes RI: Perlu Kemudahan Bagi Investor Pakistan
Selasa, 29 Januari 2013 10:44 WIB
Islamabad, (ANTARA) - Dubes RI untuk Pakistan Burhan Muhammad menilai perlu diupayakan terobosan dengan memberikan kemudahan guna mendorong para pengusaha dan calon investor dari negara itu untuk melakukan usaha di Indonesia.
"Sampai saat ini, pengusaha atau calon investor masih terkendala antara lain dengan prosedur untuk mendapatkan visa masuk ke Indonesia, " tutur Burhan kepada enam wartawan Indonesia yang melakukan pers tour atas undangan pemerintah Pakistan di Islamabad, Selasa.
Menurut Dubes Burhan Muhammad, diperlukan waktu paling paling tidak sekitar salah satu bulan bagi warga negara Pakistan untuk mendapatkan visa masuk ke Indonesia dengan alasan keamanan, khususnya untuk mengantisipasi penyusupan terhadap orang atau
kelompok yang diduga teroris berasal dari negara-negara di sekitar Pakistan.
"Mungkin, kami (Kedubes RI di Islamabad) bisa melakukan fungsi sebagai "clearing house" yang akan menyeleksi warga Pakistan yang akan berkunjung ke Indonesia, " kata Dubes guna mempercepat prosedur pengurusan visa masuk bagi mereka, jadi tidak menunggu 'clearance' dari pusat seperti yang dilakukan hingga saat ini.
Sulitnya mendapatkan izin masuk (visa) bagi warga Pakistan yang ingin berkunjung,menurut Burhan, mungkin saja menjadi salah satu penyebab rendahnya investasi Pakistan di Indonesia dibandingkan dengan di negara jiran, Malaysia, bahkan dibandingkan dengan Singapura dimana Pakistan belum menempatkan kantor kedubesnya.
Dubes mengungkapkan, dalam waktu dekat ini ia akan membawa sejumlah pengusaha dan calon investor Pakistan, misalnya ada yang tertarik untuk menanamkan modalnya dalam pembuatan perangkat (kit) dan stasiun gas alam yang dipadatkan (compressed natural gas - CNG) yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif kendaraan mobil
di Indonesia.
Menurut dia, Indonesia baru mulai menggunakan CNG yang lebih murah dari BBM, sementara di Pakistan, sudah sekitar empat juta kendaraan sudah menggunakan CNG.
Menurut data yang diperoleh dari Kedubes Pakistan di Jakarta, nilai dan volume perdagangan antara Pakistan dan Indonesia, walaupun relatif kecil, cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2011, nilai perdagangan kedua negara untuk pertama kalinya menembus angka di atas satu miliar dolar AS yakni l,l4 miliar dolar AS atau terjadi kenaikan 47,4 persen dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
Sedangkan selama periode Januari - May 2012, nilai perdagangan kedua negara mencapai 746,4 juta dolar AS atau naik 75 persen dibandingkan periode sama pada tahun sebelumnya.
Setelah ditandatanganinya Kesepakatan Tarif Preferensi (PTA) yang akan diberlakukan dalam satu atau dua bulan mendatang, nilai dan volume perdagangan antara kedua negara diharapkan akan meningkat lagi.
Berdasarkan PTA, Indonesia menawarkan penurunan tarif untuk 216 jenis komoditas ekspor Pakistan seperti kapas, garmen, alat-alat olahraga dan produk terbuat dari bahan kulit. Sebaliknya Pakistan menawarkan tarif preferensi untuk CPO, bahan-bahan turunan (derivatif) gula, coklat, produk kimia, produk berbahan karet, kayu dan gelas serta sejumlah peralatan rumah tangga dan dapur yang diimpor Pakistan. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kementerian Kebudayaan RI dukung rangkaian kegiatan 100 Tahun Jam Gadang Bukittinggi
11 February 2026 15:16 WIB
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman : GPM harus berpihak pada masyarakat korban bencana
05 February 2026 17:23 WIB
Tempo Doeloe - Moh Yamin dan Luat Siregar tentang Keanggotaan Indonesia dalam PBB
04 February 2026 21:25 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018