Padang Aro, (AntaraSumbar) - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumatera Barat mengatakan bantuan untuk 2016 bukan berupa hewan ternak melainkan pada peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) serta fasilitas penunjang.


"Pemerintah punya rancangan yang disebut Sentra Peternakan Rakyat (SPR) dan bentuk bantuannya tidak lagi berupa ternak tetapi lebih pada peningkatan SDM serta fasilitas penunjang guna peningkatan ekonomi rakyat," kata Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar, Esmiralda Anis saat menjadi narasumber penghitungan ternak di Padang Aro, Kamis.


Selain itu, katanya, bantuan ini juga bisa untuk pembuatan rumah kompos, pengembangan rumput unggul serta program percepatan produksi dan penambahan berat badan hewan.


Program ini, imbuhnya, sifatnya bagaimana cara agar peternak bisa menghasilkan hewan dengan kualitas baik serta proses penggemukan serta pengembangan bisa lebih cepat.


Ia mengatakan satu SPR untuk ternak sapi minimal sebanyak 1.000 ekor dan saat ini belum diketahui kelompok yang akan menerima bantuan ini.


Melalui program ini, katanya, maka peternak bisa meningkatkan penghasilan dengan waktu yang lebih singkat sehingga perekonomian mereka bisa cepat tumbuh.


Dia menambahkan program ini juga bertujuan agar pemerintah daerah bisa menganggarkan bantuan kepada masyarakat jika ingin mempercepat populasi ternak.


"Selama ini bantuan sapi, kerbau maupun kambing berasal dari pusat sedangkan daerah sangat jarang dan dengan program ini daerah harus lebih kreatif dan tidak hanya menunggu dari pusat," katanya.


Esmiralda yang didampingi Ketua Bhayangkari Solok Selatan Nirmala Ahmad Basahil juga meninjau kelompok tani Mekar Buah di Jorong Bangun Rejo, Kecamatan Sangir. Ia mengapresiasi kekompakan serta perkembangan kelompok tani yang berdiri pada 2013.


Bendahara Keltan Mekar Buah Abdul Karim mengatakan saat pertama kelompoknya berdiri dibantu sebanyak 21 ekor sapi jenis Perakakan Ongole (PO) dan sekarang sudah berkembang menjadi 38 ekor.


"Yang kami butuhkan sekarang adalah tempat pembuatan kompos karena tempatnya masih sangat sederhana dan menggunakan cara manual," katanya.


Ia menyebutkan selain sapi kelompoknya juga mengolah kompos dan hasilnya dibagi rata kepada setiap kelompok menjelang lebaran Idul Fitri.


"Hasil penjualan kompos ini bisa jadi Tunjangan Hari Raya (THR) bagi anggota dan hasilnya lumayan," katanya.


Sedangkan untuk rumput kelompoknya masih mencukupi karena setiap anggota menanam di sekeliling area perladangan yang dimiliki.  (*)