Pasukan Nigeria, Senegal, Prancis Bantu Militer Mali
Sabtu, 12 Januari 2013 6:59 WIB
Bamako, (ANTARA/AFP) - Prajurit-prajurit dari Nigeria, Senegal dan Prancis ditempatkan di Mali, Jumat, untuk membantu pasukan pemerintah dalam ofensif mereka terhadap militan garis keras di wilayah tengah negara itu, kata seorang perwira Angkatan Darat Mali.
"Ketika kami berbicara kepada anda, pasukan dari Nigeria, Senegal dan Prancis membantu Angkatan Darat Mali di Sevare, Mali tengah," kata kepala operasi militer untuk Kepala Staf Angkatan Darat Mali, Kolonel Oumar Dao, saat jumpa pers di Bamako, ibu kota Mali.
"Pasukan ini datang dengan peralatan yang diperlukan untuk menangani situasi," kata dia.
Langkah itu dilakukan ketika pasukan Mali pada Jumat melancarkan kontra-ofensif untuk menguasai kembali kota Konna di wilayah tengah yang direbut oleh militan garis keras pada Kamis.
Dao tidak memberikan penjelasan terinci mengenai jumlah pasukan atau peralatan yang digelar.
"Negara-negara sahabat lain sudah berjanji membantu dan kami menunggu kedatangan mereka," kata perwira itu tanpa penjelasan lebih lanjut.
Sebelumnya Jumat, seorang perwira lain mengatakan kepada AFP, kontra-ofensif dilakukan dari Sevare, sebuah daerah yang terletak sekitar 70 kilometer sebelah selatan Konna dimana militer Mali memiliki sebuah pos komando operasi.
Mali, yang pernah menjadi salah satu negara demokrasi yang stabil di Afrika, mengalami ketidakpastian setelah kudeta militer pada Maret menggulingkan pemerintah Presiden Amadou Toumani Toure.
Masyarakat internasional khawatir negara itu akan menjadi sarang baru teroris dan mereka mendukung upaya Afrika untuk campur tangan secara militer.
Rencana-rencana sedang dirampungkan untuk mengirim pasukan intervensi Afrika berkekuatan sekitar 3.300 prajurit untuk mengusir militan yang menguasai wilayah utara Mali, namun PBB masih berkeberatan dan memperingatkan bahwa penempatan itu mungkin bisa dilakukan setahun lagi.
Kelompok garis keras, yang kata para ahli bertindak di bawah payung Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM), saat ini menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis.
Militan garis keras Ansar Dine (Pembela Iman) merupakan salah satu dari sejumlah kelompok terkait Al Qaida yang mengusai Mali utara di tengah kekosongan kekuasaan akibat kudeta militer pada 22 Maret di wilayah selatan.
Ansar Dine menguasai Timbuktu, sementara Gerakan Keesaan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO) memerintah Gao, kota besar lain di Mali utara.
Kelompok-kelompok itu memberlakukan sharia di wilayah mereka dan berniat memperluas penerapan hukum Islam itu di kawasan lain Mali.
Muslim garis keras itu juga menghancurkan makam-makam kuno Sufi di Timbuktu, yang diklasifikasi UNESCO sebagai lokasi warisan dunia.
Mereka menganggap tempat-tempat keramat tersebut sebagai musyrik dan menghancurkan tujuh makam dalam waktu dua hari saja.
Mali pada 1 Juli mendesak PBB mengambil tindakan setelah kelompok garis keras menghancurkan tempat-tempat keramat di Timbuktu yang didaftar badan dunia itu sebagai kota yang terancam punah.
Pemberontak suku pada pertengahan Januari meluncurkan lagi perang puluhan tahun bagi kemerdekaan Tuareg di wilayah utara yang mereka klaim sebagai negeri mereka, yang diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libya.
Kudeta pasukan yang tidak puas pada Maret dimaksudkan untuk memberi militer lebih banyak wewenang guna menumpas pemberontakan di wilayah utara, namun hal itu malah menjadi bumerang dan pemberontak menguasai tiga kota utama di Mali utara dalam waktu tiga hari saja. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Maroko melangkah ke final Piala Afrika 2025 setelah kalahkan Nigeria lewat adu penalti
15 January 2026 7:07 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018