Jakarta, (Antara) - Duta Besar RI untuk Bangladesh dan Nepal Iwan Wiranataatmadja mengatakan bahwa ada tiga warga negara Indonesia (WNI) pengunjung Nepal yang belum bisa dihubungi pasca gempa kedua berkekuatan 7,4 skala Richter mengguncang negara itu.


        "Ada tiga WNI 'visiting' (berkunjung) yang belum dapat dihubungi. Alma Parahita, Kadek Andana, Jeroen Hehuwat," demikian disampaikan Dubes Iwan dalam pesan teks yang diterima di Jakarta, Rabu.


        Menurut dia, berdasarkan perhitungan per tanggal 12 Mei pukul 11.00 WIB, jumlah WNI yang berada di Nepal adalah 103 orang yang terdiri dari 39 WNI menetap di Nepal dan 64 WNI pengunjung.


        Dia menyebutkan, sebanyak 39 WNI yang menetap di Nepal itu telah dapat dihubungi dan dalam keadaan baik pasca gempa kedua.


        Sementara itu, dari 64 WNI pengunjung Nepal, 15 orang sudah dapat dihubungi dan dalam keadaan baik, dan 46 orang sudah berada diluar Nepal. Akan tetapi, tiga orang WNI pengunjung masih belum dapat dihubungi.


        "Sebelumnya jumlah orang yang mengikuti pemulangan dengan Pesawat TNI AU Boeing 737-400, pada tanggal 6 Mei adalah 26 orang, terdiri dari 16 WNI menetap, empat WNA (warga negara asing) keluarga dari WNI menetap, dan enam WNI pengunjung," ungkap Iwan.


        Selain itu, dia menyebutkan bahwa ada 61 orang relawan dari Indonesia yang masih berada di Nepal.


        Gempa kedua yang kembali mengguncang Nepal berkekuatan 7,4 pada skala richter. Pusat gempa berada pada 51 mil timur kota Kathmandu dengan kedalaman 11 mil.


        Gempa tersebut diikuti dengan gempa susulan berskala 5,6 hingga 6,3 Richter selama 30 menit selanjutnya.


        Pusat gempa dekat dengan Everest Base Camp, yang telah dievakuasi setelah mengalami longsor salju yang dipicu oleh gempa bulan lalu, yang menewaskan 18 pendaki.


        Gempa bulan lalu, yang tercatat berkekuatan sebesar 7,8 SR, menewaskan sedikitnya 8.046 orang dan melukai lebih dari 17.800 orang.


        Gempa di Nepal kali ini yang berkekuatan 7,4 SR diperkirakan berpotensi menyebabkan kerusakan yang signifikan dan tanah longsor. (*)