Jakarta, (Antara) - Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan normalisasi distribusi beras untuk rakyat miskin (raskin) dan mulainya masa panen akan mempercepat harga bahan makanan pangan itu kembali normal ke sekitar Rp8.000-Rp9.000. "Distribusi raskin akan terus digenjot. Pada Maret ini ada 242 ribu ton. Selain itu akhir Maret ini akan mulai panen raya. Maka saat itu harga akan mulai normal lagi," kata Sofyan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin. Sofyan menampik kenaikan harga beras sejak awal Januari karena adanya oknum kartel yang memainkan struktur harga beras di tingkat petani hingga harga jual di pasar. Menurut Sofyan, kenaikan harga beras, yang mencapai 30 persen di DKI Jakarta, murni karena kekurangan pasokan raskin pada November hingga Desember 2014. Hal itu, ujar Sofyan, diperparah dengan peyaluran raskin oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) pada Januari dan Februari 2015 yang tidak sesuai target 233 ribu ton per bulan. "Distribusi raskin biasanya per bulan 232 ribu ton. Bulan November Desember 2015 tidak di-supply, karena memang saat itu tidak ada jatah lagi, sehingga dua bulan itu kekurangan 464 ribu ton. Ditambah bulan Januari-Februari realisasnnya tidak secepat seharusnya," kata dia. Sofyan menuturkan hingga awal Maret 2015, distribusi raskin yang seharusnya 464 ribu ton (Januari-Februari), baru teralisasi sekitar 300 ribu ton. "Sekarang (harga beras) di Jakarta sudah normal lagi, walaupun belum terlalu turun. Tidak lagi akan ada kenaikan, karena pelaku pasar tahu, pemerintah terus memasok," ujar dia. Rencana Harga Gabah Naik Sofyan mengaku bisa memahami masih rendahnya harga gabah kering panen yang dibeli ditingkat petani. Menurutnya, pemerintah berencana membeli gabah kering di tingkat petani dengan harga yang lebih tinggi dibanding harga rata-rata sekarang. "Kami memang sedang berpikir gabah kering panennya akan dibeli oleh pemerintah. Kami akan menyesuaikan harga gabah keringnya sedikit ke atas," kata dia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Harga gabah kering panen pada Februari 2015 di tingkat petani sebesar Rp4.922,52/kg atau turun 2,1 persen dibanding Januari 2015. BPS mencatat harga gabah kering kualitas rendah paling murah terjadi di Jawa Barat sekitar Rp3.300 per kilogram dan paling mahal mencapai Rp8.200 per kilogram di Kalimantan Tengah. (*/jno)