Yangon, (Antara/AFP) - Presiden Myanmar bertekad tidak akan kehilangan secuilpun wilayahnya dalam bentrok dengan pemberontak etnik di kawasan perbatasan dengan Tiongkok, demikian dilaporkan media yang didukung pemerintah, Selasa, menyusul meningkatnya pertempuran yang mendorong puluhan ribu pengungsi melintasi perbatasan. Bentrokan antara tentara Myanmar dengan pemberontak Kokang di provinsi baratdaya Shan memicu kekhawatiran di Tiongkok, yang memperingatkan ancaman keamanan perbatasan setelah 30 ribu pengungsi dilaporkan menyeberang perbatasan menuju provinsi Yunnan pekan lalu. Presiden Myanmar Thein Sein mengatakan militer "menjaga kedaulatan dan menjamin integritas teritorial", demikian dilaporkan harian Global New Light of Myanmar, setelah pecahnya beberapa bentrokan terparah di negara yang masih dilanda pemberontakan etnis minoritas itu. Mantan jendral junta itu saat mengunjungi tentara yang cidera mengatakan ia "bertekad tidak akan kehilangan satu incipun teritorial Myanmar", demikian laporan tersebut. Militer Myanmar melancarkan serangan udara terhadap pemberontak yang mencoba merebut kota utama Kokang, Laukkai, dimana puluhan orang dari kedua belah pihak tewas dalam pertempuran di jalan. Pada Senin, jurubicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying mengatakan di Beijing bahwa semakin banyak pertempuran "akan mempengaruhi stabilitas kawasan perbatasan Tiongkok-Myanmar dan keamanan di perbatasan sisi Tiongkok". Sebagian besar pengungsi lokal, mayoritas adalah etnis Tionghoa, lari menyeberangi perbatasan ke Tiongkok. Kantor berita Tiongkok Xinhua mengutip pernyataan pemerintah kota Lincang di Yunnan mengatakan, lebih dari 30 ribu orang telah melintasi perbatasan sejak pertempuran mulai pecah pada 9 Februari, dan menambahkan bahwa pejabat Tiongkok menyediakan makanan dan obat-obatan bagi mereka. Sekitar dua ribu pengungsi juga menyingkir ke Myanmar tengah, kata media pemerintah. Otoritas Myanmar menuding pemimpin pemberontak lokal Kokang Phone Kya Shin dibalik pertempuran itu dan meminta Beijing bertindak mencegah pihak-pihak setempat yang kemungkinan membantu kelompok pemberontak itu dari perbatasan. Hua yang ingin meyakinkan negara tetangganya di wilayah selatan itu mengatakan Beijing tidak akan membiarkan kelompok manapun "melakukan aktivitas yang mengganggu hubungan Tiongkok-Myanmar... (dari) dalam wilayah Tiongkok dan mendesak agar kedua belah pihak yang terlibat konflik menahan diri." Wilayah Kokang relatif tenang sejak 2009, ketika tentara Myanmar melancarkan serangan besar-besaran terhadap pemberontak Kokang dan menyebabkan puluhan ribu pengungsi membanjir melintasi perbatasan ke Tiongkok. Pertempuran itu menyebabkan junta Myanmar saat itu mendapatkan peringatan dari Tiongkok, yang saat itu merupakan satu-satunya sekutu di panggung internasional. (*/sun)