Menlu Rusia-AS Adakan Dialog Krisis Ukraina
Selasa, 27 Januari 2015 13:14 WIB
Jakarta, (Antara) - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey V. Lavrov, Minggu (Senin WIB), mengadakan dialog dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry melalui sambungan telepon untuk membahas krisis Ukraina.
"Kedua pihak fokus pada situasi tenggara Ukraina, yang dianggap Menteri Lavrov memburuk akibat pengeboman oleh tentara Ukraina dan ini melanggar Perjanjian Minsk," tulis siaran pers Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia kepada Antara di Jakarta, Selasa.
Dalam dialog tersebut, Menlu Lavrov mengingatkan Menlu Kerry bahwa otoritas Kiev gagal menjalankan kewajibannya untuk memulai proses pembentukan undang-undang komprehensif yang melibatkan semua daerah dan partai politik di negara tersebut.
Lavrov juga menyebutkan tidak ada kemajuan dalam proses investigasi atas banyak pelanggaran kriminal selama konflik dalam negeri Ukraina.
AS dan Rusia menyetujui bahwa harus segera diadakan gencatan senjata di kota Donbas dan menarik semua senjata berat. Kedua negara juga menyatakan siap untuk berkontribusi dalam penyelesaian krisis Ukraina.
Menanggapi tawaran Kerry untuk memperluas format negosiasi proses perdamaian, Menlu Rusia menekankan bahwa negaranya dengan segenap kekuatan yang dimiliki, siap untuk mendorong semua pihak mewujudkan perdamaian.
Namun Lavrov juga mengatakan perdamaian akan benar-benar bisa diwujudkan dengan adanya dialog langsung antara pihak yang bertikai di Donetsk dan Lugansk.
Dia juga meminta AS menggunakan pengaruhnya agar pemerintah Ukraina menghindari skenario militer.
Pembicaraan kedua menlu juga menyinggung situasi di Suriah, menjelang pertemuan Inter-Suriah yang diadakan di Moskow pada (26/1) untuk mencari berbagai jalan menyelesaikan konflik di Suriah.
Selain itu AS dan Rusia juga mendiskusikan beberapa isu yang menjadi agenda bersama termasuk jadwal hubungan bilateral.
Sementara itu menurut Kedubes Rusia, pemerintah Ukraina di Kiev belum memberikan tanggapan atas pesan Presiden Rusia Vladimir Putin, (15/1), kepada Presiden Ukraina P. Poroshenko.
Putin meminta semua pihak bertikai untuk menarik semua senjata berat sesuai dengan Perjanjian Minsk pada 19 September 2014.
Pendekatan seperti ini juga didukung dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri Jerman, Rusia, Ukraina dan Prancis yang diadakan di Berlin pada 21 Januari 2015. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
12 hari dirawat, atlet gimnastik Indonesia Naufal wafat saat pelatihan di Rusia
26 September 2025 8:50 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018