Siang itu ketika hujan lebat mengguyur Padang, di pinggir Jalan Kampung Nias, Kota Padang, dua lelaki paruh baya Sawar (54) dan Kardi (50) tengah sabar menunggu hujan reda. Mereka adalah dua orang dari sekian banyak orang yang menggantungkan hidupnya dan hidup keluarganya dari berjualan buah keliling.
Mereka terlihat sabar menunggu hujan reda, setelah empat jam mengelilingi beberapa kawasan Kota Padang untuk menjajakan buah segar yang diprsiapkan pagi hari.
Sembari bercerita di bawah atap teras salah satu kantor cabang partai politik, wajah riang mereka tak pudar meski gerobak buah yang mereka kayuh itu masih dipenuhi berbagai macam potongan buah-buahan.
Semangka, nenas, pepaya, kedondong, saus, bengkuang dan rujak, terlihat masih menumpuk di gerobak buah itu, padahal jam telah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Sawar mengatakan, ia telah menjajakan buah-buahan itu sejak pukul 10.00 WIB, namun hari ini (Minggu,9/1) agaknya Tuhan tengah menguji kesabarannya kembali.
"Hari ini, cuaca tak menentu, dari tadi pagi mulai mendung dan pas tengah hari hujan mulai turun, entah bagaiamana sore nanti," kata Sawar.
Wajah tua dengan tubuh nan hitam kurus itu tetap bisa tertawa. Dia tetap optimis hari ini akan mendapat untung minimal seperampat dari modal.
"Untuk hari ini saya berdagang dengan modal Rp100 ribu saja, paling tidak dalam cuaca hujan seperti sekarang Rp25 ribu bisa saya bawa pulang," katanya optimis.
Ia jual buah dagangannya seharga Rp1.000 per buahnya. Dari modal Rp.100 ribu, Sawar dapat membagi buah-buahan yang di belinya dari pasar menjadi 150 hingga 170 bagian.
"Jika habis semua, setidaknya saya peroleh untung Rp70 ribu per hari, jika hari hujan begini, dapat untung Rp25 ribu juga sudah mujur.
Sawar telah 14 tahun sudah berkeliling menjajakan buah-buahan demi kelangsungan hidupnya serta istri dan tiga anaknya. Sebelumnya ia pernah menjadi pekerja bangunan, hingga tahun 1997 ia berhenti karena sudah mulai jarang aktivitas pembangunan di Kota Padang.
"Sejak awal tahun 90-an, aktivitas pembangunan di Kota Padang berkurang, makanya saya beralih menjadi pedagang buah," katanya mengulang sejarah.
Kakek satu cucu itu berkata, bermodal Rp300 ribu, ia memulai usaha kecilnya itu. Warga Pasa Mudiak, Kecamatan Padang Selatan itu bercerita, berdagang buah hanyalah sekadar cukup untuk makan anak istri.
"Jangan berharap dari bedagang buah keliling ini bakal menjadi kaya," cetusnya.
Di zaman sekarang, lanjutnya, untung Rp50 - Rp 70 ribu sehari sudah lumayan buat makan dan biaya sekolah anak. 'Pas-pasan', istilah lelaki pengayuh gerobak buah itu.
Tidak ada harapan besar dalam hidupnya kecuali bisa memberi manfaat semampunya untuk keluarga dan memenuhi hidup dengan rasa syukur meski kadang harus menerima kerugian bila dagangannya tak habis lebih dari separuh, karena hujan.
"Saya yakin hujan itu adalah rahmat, jika tak ada hujan tanaman bisa saja tak berbuah, tapi jika sudah mulai berdagang saya berharap cuaca panas terus. Saya takut jika turun hujan, tak ada yang bisa dibawa kerumah," katanya.
Kesabaran mereka mengayuh kadang juga berbuah manis. Di saat-saat tertentu, sela Kardi (50) dagangannya bisa habis semua.
Ia mengatakan, berdagang buah keliling juga punya strategi tertentu. Tak bisa hanya mengandalkan gigih mengayuh saja.
"Menuju keramaian menjadi lahan utama jika ingin dagangan buah laku semua," kata pedagang buah yang berkeliling menjajakan dagangan sejak tahun 1996 itu.
Sama seperti Sawar, Kardi sebelumnya juga berprofesi sebagai pekerja bangunan. Dengan alasan yang sama pula, ia memilih berdagangan buah, meski dia paham benar risiko yang ia tanggung jika berdagang buah keliling itu.
"Hitung-hitung mengurangi jumlah pengangguran di Kota Padang kan sudah lumayan, dan juga berdagang buah tidak menguras tenaga," katanya lelaki yang telah berumur separuh abad itu.
Ia mengatakan, meski mata pencahariannya itu tidak bisa diandalkan untuk menambah modal usaha, ia tidak punya pilihan lain. Selain faktor usia, lelaki yang hanya tamatan SMP itu lebih senang memiliki usaha sendiri meski skala mikro dan jadi juragan dari usahanya. Ia berharap, anak-anaknya kelak bernasib lebih baik dari kondisinya saat ini.
"Setiap orangtua pasti ingin anak-anaknya bernasib lebih baik, dan prinsip saya, anak-anak saya harus tamat sarjana," cita-cita bapak lima anak itu.
Sawar dan Kardi hanya mengandalkan untung dari berjualan buah saja untuk menghidupi keluarganya. Modal seratus hingga Rp150 ribu dengan untung separuh modal, oleh mereka sudah sangat besar untuk menebar manfaat untuk anak dan istri.
Mereka juga tak banyak berharap pada pemerintah, oleh sebab tak ingin hanya menggantungkan harapan saja.
"Kami juga ingin punya modal besar untuk usaha, tapi kami tak tahu bagaimana caranya. Jika berharap pada pemerintah kami takut hanya terus berharap dan berharap saja," kata mereka. (*/wij)