Mantan Jenderal Libya Berusaha Rebut Tripoli dari Milisi
Sabtu, 29 November 2014 20:22 WIB
Roma, (Antara/AFP) - Mantan jenderal Libya, Khaifa Haftar, Jumat mengatakan berjanji bahwa dalam dua pekan merebut Benghazi dan tiga bulan merebut kembali ibu kota Tripoli.
Orang kuat itu, sekutu parlemen Libya, memerangi kelompok milisi, yang menguasai kota besar negara porak poranda akibat perang musim panas ini setelah mereka kalah dalam pemilihan umum.
Pasukan yang setia pada Haftar dan Perdana Menteri Abdullah al-Thani sedang berperang untuk menguasai Benghazi di timur dan melakukan serangan terhadap posisi-posisi milisi Islam barat Benghazi.
"Untuk Tripoli kami hanya melancarkan serangan awal," kata Haftar kepada surat kabar Italia Corriere della Sera. "Kami memerlukan lebih banyak petempur dan lebih banyak pasokan dan senjata."
"Saya menetapkan tiga bulan, tetapi mungkin tidak sampai. Kelompok Islam Fajr Libya tidak sulit untuk dikalahkan, tidak lebih dari itu ketimbang Negara Islam di Derna," kota di timur negara yang hancur lebur akibat perang yang menjadi pangkalan bagi para petempur yang berafiliasi dengan kelompok garis keras yang menguasai daerah-daerah luas Irak dan Suriah.
"Tetapi prioritas adalah Benghazi," kata Haftar. "Ansar Asharia (Milisi Islam) yang memberikan perlawanan kuat, memerlukan kerja lebih keras, kendatipun kami menguasai 80 persen kota itu dan kami terus bergerak maju," tambahnya.
Jenderal itu menginginkan parlemen dan pemerintah al-Thani yang diakui internasional, kini bermarkas di Tobruk, dekat perbatasan Mesir, akan kembali setidaknya ke Benghazi. "Saya memberikan batas waktu bagi saya 15 Desember," katanya.
Lebih dari tiga tahun setelah diktator Muamar Gaddafi digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan yang didukung NATO, Libya banjir senjata dan milisi-milisi yang kuat dan memiliki dua pemerintah dan dua parlemen yang berseteru.
"Parlemen Tobruk adalah satu parlemen yang dipilih rakyat. Satu parlemen bermarkas di Tripoli adalah satu parlemen ilegal di mana kelompok Islam ingin memutar jam kembali sejarah," kata Haftar.
"Tetapi bahaya nyata datang dari kelompok fundamentalis yang ingin memberlakukan keinginan mereka di mana-mana. Jika Ansar Asharia berkuasa di sini, ancaman akan datang kepada anda di Eropa, di rumah-rumah anda," katanya dalam wawancara itu mengacu pada Benghazi.
"Mesir, Aljazair, Emirat-Emirat dan Arab Saudi telah mengirim senjata-senjata dan amunisi kepada kami, tetapi hanya berteknologi yang lebih tua. Kami tidak meminta anda Eropa) mengirim pasukan darat atau pesawat. Jika kami memiliki peralatan militer yang layak kami akan menang," tambahnya. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wali Kota Padang dan Dirjen KP tinjau lokasi banjir bandang di Lubuk Minturun
03 December 2025 19:18 WIB
Pemkot Bukittinggi sepakati optimalisasi pemungutan pajak bersama DJP dan DJPK
17 October 2025 13:40 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018