Jokowi harus Berani Satukan BPJS
Senin, 20 Oktober 2014 16:48 WIB
Jakarta, (Antara) - Presiden Joko Widodo harus berani menyatukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang saat ini terpecah menjadi dua, yaitu BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan serta mengangkat posisi Kepala BPJS sebagai menteri.
"Ide awal BPJS itu disatukan bukan terpecah dua seperti sekarang. Dan sudah saatnya posisi Kepala BPJS dijadikan menteri untuk memudahkan koordinasi dengan menteri, kepala daerah dan pihak swasta," kata pencetus ide BPJS Dr Emir Soendoro SpOT kepada Antara di Jakarta, Senin.
Ia menilai, peran BPJS yang disatukan akan sangat strategis karena menyangkut nasib rakyat kecil termasuk buruh, apalagi Jokowi identik dengan pembela rakyat kecil.
"Semua yang menyangkut soal pelayanan kesehatan harus disatukan dalam BPJS termasuk Jasa Raharja yang selama ini juga menyantuni korban kecelakaan, karena pada ujungnya juga bersinggungan dengan pelayanan kesehatan," katanya yang pernah meluncurkan buku "Jaminan Sosial Solusi Bangsa Indonesia Berdikari" itu.
Dokter bedah tulang itu yakin ide penyatuan BPJS dan segala usaha akan banyak mendapat tentangan tetapi semua pasti mengerti bahwa penyatuan itu akan menjadikan BPJS bisa lebih efisien.
"Pemerintahan sebelumnya tidak berani melakukan itu, saya ingin menantang Pak Jokowi untuk berani melakukan terobosan itu, demi manfaat yang lebih besar bagi rakyat Indonesia," katanya.
Cadangan Dana
Penyatuan itu harus diikuti juga dengan kewajiban bagi semua warga negara untuk menyumbangkan iuran BPJS sehingga menjadi kekuatan besar cadangan dana nasional.
"Malaysia mampu menggunakan cadangan nasional dari dana seperti itu yang mencapai ratusan miliar dolar untuk mengatasi krisis di tahun 1998," katanya.
Selain itu, Presiden Jokowi harus berani pula mengangkat Kepada BPJS sebagai menteri agar mempunyai kemampuan berkoordinasi lebih baik dengan menteri yang lain dan kepada daerah.
"Status menteri akan membuat Kepala BPJS bisa melakukan kordinasi dan lobi yang lebih baik karena suaranya akan lebih didengar daripada seorang kepala badan," katanya.
Ia mengingatkan, harapan rakyat Indonesia kepada Pemerintahan Jokowi-JK begitu tinggi khususnya soal pelayanan kesehatan dan jaminan sosial lainnya sehingga harus ada terobosan agar pelaksanaannya bisa lebih baik.
"Saya menantang Jokowi melakukan terobosan itu, karena semuanya bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat," katanya yang berhasil menggagas "trauma centre" saat menjadi penasehat Jamsostek 2002-2005.
BPJS Kesehatan yang diluncurkan awal tahun 2014, saat ini sudah melayani 129 juta peserta, sementara kepesertaan di BPJS Ketenagakerjaan tercatat sekitar 12 juta pekerja. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Coach Matias Ibo di Bulan K3 Semen Padang: Latihan Fisik Tak Harus Berat, tapi Harus Konsisten
11 February 2026 12:27 WIB
Jelang setahun pemerintahan, Wako Fadly Amran ingatkan program dan kegiatan OPD harus selaras dengan visi misi dan progul
05 February 2026 18:22 WIB
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman : GPM harus berpihak pada masyarakat korban bencana
05 February 2026 17:23 WIB
Zigo Rolanda : Pemulihan bencana tidak hanya harus cepat tapi juga harus terukur
28 January 2026 12:29 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018