Jakarta, (Antara) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan berdasarkan hasil pengungkapan kasus dalam lima tahun terakhir, mie basah merupakan produk makanan yang paling banyak menggunakan formalin. "Kami temukan rumah industri hingga pabrik berskala besar di berbagai daerah yang memproduksi mie basah dengan campuran formalin. Ini yang paling banyak ditemukan," kata Kepala BPOM Roy A Sparringa di Jakarta, Senin. Roy yang ditemui wartawan sebelum memimpin rapat terkait pengungkapan dua pabrik mie berformalin beberapa hari lalu di di Desa Nanggerang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor itu menambahkan bahwa tahu merupakan produk kedua terbanyak yang ditemukan mengandung formalin. "Ketiga itu ikan. Kami juga banyak mengungkap ikan dicampur bahan formalin sebagai pengawet agar kelihatan segar," ujarnya. Dia tidak merinci kasus penggunaan bahan pengawet mayat dalam produk makanan dalam lima tahun terakhir. "Terlalu banyak kasusnya, yang terjadi di daerah hingga pusat," katanya. Dua pabrik mie basah di Desa Nanggerang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, merupakan kasus yang cukup besar, yang berhasil diungkap BPOM baru-baru ini. "Bayangkan saja, dalam satu hari pabrik itu memproduksi 6 ton mie basah yang dijual di Tangerang, Depok, Bogor dan Jakarta," katanya. Menurut dia, bahan makanan beracun baik siap dikonsumsi maupun yang perlu diolah terlebih dahulu mungkin ada di sekeliling masyarakat. Konsumen perlu meningkatkan kewaspadaannya terhadap permasalahan ini, namun tidak perlu merasa takut. "Kenali ciri-ciri bahan makanan yang sehat dan juga kenali ciri-ciri makanan yang mengandung formalin maupun pengawet lainnya," ujarnya. (*/sun)