Seoul, (Antara/AFP) - Media pemerintah Korea Utara, Minggu (12/10), memperingatkan gangguan pada dialog dengan pesaingnya, Korea Selatan, terkait peluncuran selebaran propaganda anti-Pyongyang, yang memicu bakutembak singkat lintas perbatasan. Kedua Korea itu sepekan sebelumnya sepakat bekerja sama melanjutkan pembicaraan resmi tingkat tinggi, yang ditangguhkan tujuh bulan. Hal itu meningkatkan harapan atas pencairan hubungan tegang di antara keduanya. Tapi, mereka telah melakukan baku tembak dengan senapan mesin melintasi perbatasan pada Jumat ketika pasukan Korea Utara mencoba untuk menembak jatuh balon yang membawa selebaran yang diluncurkan oleh aktivis Korea Selatan. Beberapa peluru melintas ke sisi selatan perbatasan, yang kemudian direspon dengan tembakan senapan mesin kaliber tinggi. Tidak ada korban dilaporkan di kedua belah pihak. Rodong Sinmun, surat kabar resmi Korea Utara, mengatakan dalam sebuah komentar bahwa pertemuan tingkat tinggi yang direncanakan itu "hampir sia-sia". "Bagaimana kami bisa mengharapkan peningkatan hubungan antar-Korea atau dialog yang berhasil dengan mereka yang masih terobsesi oleh delusi jahat ... dan tenggelam dalam provokasi sembrono untuk memfitnah mitra dialog?," katanya. Surat kabar itu menuduh Seoul mendorong situasi menjadi lebih buruk tapi tidak mengatakan pintu bagi dialog benar-benar tertutup. "Masa depan hubungan antar-Korea benar-benar terserah sikap pemerintah Korea Selatan," katanya tanpa menyebutkan insiden baku tembak itu. Sementara konfrontasi angkatan laut di sepanjang perbatasan maritim yang disengketakan dua Korea itu terjadi dari waktu ke waktu, bakutembak atau keterlibatan militer di perbatasan darat yang dijaga ketat sangat jarang. Pada tahun 2010, Korea Utara menembaki pulau perbatasan Korea Selatan, Yeonpyeong, yang menewaskan empat orang dan secara singkat memicu kekhawatiran terjadinya konflik skala penuh. Peluncuran balon adalah salah satu dari beberapa aksi yang direncanakan bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-69 dari Partai Pekerja yang berkuasa di Korea Utara. Seoul mengizinkan aksi itu dilakukan, meski ada peringatan sebelumnya dari Pyongyang atas konsekuensi dari aksi itu. Beberapa balon itu berisi pesan yang mengecam pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un, yang belum terlihat di depan umum selama lebih dari satu bulan. (*/WIJ)