LSM: Properti Indonesia Timur Kejar Wilayah Barat
Jumat, 3 Oktober 2014 14:50 WIB
Jakarta, (Antara) - Lembaga swadaya masyarakat Indonesia Property Watch mengatakan sektor properti di Indonesia bagian Timur telah melaju pesat mengejar wilayah Barat khususnya dalam bidang pembangunan properti bisnis.
"Di Indonesia bagian Timur ternyata malah menunjukkan perkembangan yang cukup baik mengejar ketinggalannya setelah perkembangan properti wilayah Barat sempat melejit," kata Direktur Indonesia Property Watch Ali Tranghanda dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menurut Ali Tranghanda, pesatnya perkembangan properti itu misalnya di Surabaya (Jawa Timur) dan Makassar (Sulawesi Selatan) yang masih berpeluang untuk sektor komersial.
Namun, ia mengingatkan bahwa ketika sebuah wilayah mempunyai potensi, maka biasanya fenomena latah akan kembali muncul dengan banyaknya investor yang ikut masuk ke sektor yang sama di wilayah yang sama. "Waspada akan batasan limitasi pasar seharusnya menjadi pertimbangan sehingga pasar properti lebih sehat dan solid," katanya.
Ali mencontohkan, kelatahan di sektor perhotelan khususnya di Bali telah memasuki pasar jenuh dengan banyaknya investor yang berlomba-lomba membangun hotel di sana.
Aktivitas itu, ujar dia, membuat harga tanah ikut terkerek naik dan semakin tinggi, tetapi ternyata tidak menyurutkan investor untuk membangun hotel meskipun secara investasi dipertanyakan tingkat kelayakannya dengan harga tanah yang sudah membumbung tinggi.
Sebelumnya, Ali juga mencemaskan pesatnya pembangunan properti hotel di berbagai daerah karena diperkirakan telah mencapai titik jenuh dalam meraup pangsa pasar yang tersedia.
"Indonesia Property Watch mendesak masing-masing pemda untuk tidak mengobral izin perhotelan tanpa melihat pasar yang ada," katanya sambil menambahkan, kebijakan moratorium atau penghentian izin hotel sebaiknya segera dilakukan pemda sebelum banyak "korban berjatuhan".
Ia mengakui gurihnya bisnis perhotelah telah membuat pesatnya pertumbuhan pembangunan hotel di sejumlah kota besar di Indonesia selama beberapa tahun terakhir.
"Kota-kota besar khususnya dengan ekonomi berbasis wisata seperti Jakarta, Bali, dan Bandung menjadi incaran investor untuk beramai-ramai membangun hotel," ujar Ali Tranghanda.
Ia memaparkan, hotel-hotel yang baru dibangun umumnya adalah segmen hotel "budget" (hemat) dengan harga sewa Rp300-- Rp600 ribu per malam yang diperkirakan semakin menjamur di perkotaan.
Ia juga mengemukakan, hampir semua pengembang saat ini mulai melebarkan sayapnya ke bisnis perhotelan.
"Tidak hanya pengembang swasta melainkan banyak BUMN yang juga ikut bermain di pasar perhotelan sebagai bagian dari optimalisasi lahan yang ada. Namun tidak sedikit juga para pemain dadakan yang mempunyai modal yang mencoba menjajal pasar hotel," katanya. (*/sun)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KAI Divre II Sumbar bersama KAI Properti sapa sekolah terdampak bencana banjir di Batang Anai
30 January 2026 16:08 WIB
Dibantu Semen Padang, Sanggar Budaya Indarung Kini Tak Lagi Sewa Properti untuk Tampil
10 March 2025 12:28 WIB
Menko Airlangga: Indonesia jadi tujuan investasi properti terbaik di dunia
20 September 2023 7:45 WIB, 2023
Bank Nagari hadirkan pinjaman dengan pola syariah untuk berbagai kebutuhan properti
31 August 2022 18:38 WIB, 2022
PLN Payakumbuh nyalakan PJU Mandiri di Villa Taman Bahrum, dukung pertumbuhan properti
30 August 2022 15:00 WIB, 2022
Properti antik drama kerajaan Inggris "The Crown" yang tayang di Netflix dicuri
25 February 2022 7:13 WIB, 2022
Ini yang perlu diperhatikan saat akan beli rumah primer dan sekunder
23 January 2022 12:52 WIB, 2022
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018