Karakas, (Antara/AFP) - Selama bertahun-tahun, wiski merupakan minuman keras pilihan dan lambang sosial orang Venezuela, karena harganya mahal, barang impor yang dirindukan semasa industri minyak berjaya di negeri tersebut. Namun dengan ekonomi yang lesu, orang Venezuela berbalik memilih minuman rum buatan dalam negeri untuk pelipur lara. Krisis nilai tukar, inflasi dan kelangkaan bahan kebutuhan pokok, telah menutup hari-hari gemilang ketika negeri itu menyatakan sebagai negara penghasil minyak utama dengan membeli wiski Skotlandia dan Irlandia. Penjualan wiski turun 29 persen tahun lalu sebaliknya rum naik 22,6 persen di Venezuela. Produksi rum dalam negeri naik dari 15,8 juta liter pada 2012 menjadi 21,8 juta liter tahun lalu. "Anjloknya penjualan wiski antara lain karena kelangkaan mata uang asing. Tidak ada dolar untuk mengimpor sehingga konsumen mendapatkannya dari pasar gelap -- hampir 15 kali lebih mahal, dan harga sangat melonjak," kata pengritik makanan dan minuman, Miro popic. "Sementara itu teknik menyuling rum di dalam negeri semakin meningkat, maka banyak orang beralih ke rum, pilihan yang lebih murah," katanya. (*/sun)