Menlu Rusia Kecam "Campur-Tangan Militer" AS
Minggu, 28 September 2014 10:06 WIB
PBB, AS, (Antara/AFP) - Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Sabtu, menuduh Amerika Serikat beralih ke "campur-tangan militer" untuk membela kepentingannya, dalam referensi terselubung untuk kampanye udara di Suriah.
"Washington telah secara terbuka menyatakan haknya untuk penggunaan kekuatan sepihak di mana saja untuk menegakkan kepentingannya sendiri," kata Lavrov di Majelis Umum PBB.
"Gangguan militer telah menjadi norma - bahkan meskipun hasilnya suram dari semua operasi kekuatan yang telah dilakukan AS selama beberapa tahun terakhir ini."
Lavrov mengutip kampanye udara NATO di Yugoslavia, perang Irak, serangan terhadap Libya dan misi Afghanistan sebagai contoh aksi militer pimpinan AS yang katanya telah menyebabkan "kekacauan dan ketidakstabilan."
Rusia, sekutu Presiden Suriah Bashar al-Assad, telah mengkritik serangan udara pimpinan AS terhadap pejuang Islam di Suriah sebagai ilegal, dan berpendapat bahwa Barat harus bekerja sama dengan Damaskus dalam menghadapi para pejuang jihad.
Lavrov menuduh bahwa Amerika Serikat dan sekutu Barat-nya yang menggambarkan diri mereka sebagai juara demokrasi, padahal sebenarnya mereka "mencoba untuk memutuskan semua orang apa yang baik ataupun yang jahat."
Rusia telah mengirimkan "persediaan besar senjata dan peralatan militer" ke Irak, Suriah dan negara-negara Timur Tengah lainnya serta akan melanjutkan dukungan militer," katanya.
Bentrokan diplomatik atas aksi militer di Suriah telah membuka terhadap latar belakang ketegangan Timur-Barat atas Ukraina, di mana pemberontak pro-Moskow di timur memerangi pemerintah pro-Eropa di Kiev.
Lavrov mengatakan, Ukraina telah menjadi "korban yang jatuh" untuk "kebijakan arogan" Washington, dan menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Uni Eropa mendukung "kudeta" di Ukraina yang menggulingkan presiden Viktor Yanukovych pada Februari.
Berbicara di podium Majelis 193 negara, Lavrov menyerukan
semua pihak untuk memulihkan "prioritas global" dan "menghindari membuat mereka menjadi sandera satu agenda sepihak." (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
12 hari dirawat, atlet gimnastik Indonesia Naufal wafat saat pelatihan di Rusia
26 September 2025 8:50 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018