Aliansi Peradaban Dorong Persatuan Dunia Lewat Dialog
Jumat, 29 Agustus 2014 13:26 WIB
Nusa Dua, Bali, (Antara) - Forum Global ke-6 Aliansi Peradaban Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOAC) mendorong persatuan dunia dalam keberagamannya melalui dialog antarbudaya dan antaragama.
Sebanyak 106 perwakilan dari negara-negara PBB dan sekitar 1.300 partisipan dari berbagai latarbelakang budaya dan agama di dunia bertemu di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat, untuk membahas persatuan dalam keberagaman dan mencegah tindakan ekstrimisme, selain menjembatani jurang antara Islam dan Barat.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Utusan PBB untuk UNAOC Abdulaziz Al-Nasser, Presiden Sesi ke-68 Sidang Umum PBB John William Ashe, Perdana Menteri Timor-Leste Kay Rala Xanana Gusmao, Menlu Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Garcia-Margallo, dan Deputi Kementerian Luar Negeri Turki Naci Koru membuka forum global yang berlangsung 28-30 Agustus itu.
"Dunia ini membutuhkan etika-etika tentang aturan hukum, hak-hak asasi manusia, dan perlindungan kehormatan setiap manusia untuk hidup bahagia dan kita harus bertindak untuk mencapai tujuan itu, jika kita serius untuk mengakhiri konflik dan ketegangan yang mewabah di masyarakat global kita," kata Abdulaziz Al-Nasser.
Al-Nasser mengaku tidak dapat menyembunyikan ketidak-nyamanannya tentang pergeseran global dalam situasi keamanan dunia dan konflik-konflik yang dilatarbelakangi perbedaan budaya dan agama.
"Krisis di Irak, Gaza, Suriah dan di Republik Afrika Tengah, Nigeria, Myanmar, dan Sri Lanka begitu jelas menunjukkan bahwa masyarakat bergulat dengan ketegangan berbasis identitas," tutur Al-Nasser.
Sementara, Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan krisis dan konflik yang semakin memburuk di dunia didorong oleh para pihak yang rakus akan kekuasaan.
"Perang dimulai dari benak seseorang dan jalan mencapai perdamaian juga muncul dari hati seseorang" ujar Ban Ki-moon.
Aliansi Peradaban, menurut Sekjen PBB, dibentuk untuk menyentuh hati dan benak setiap orang dan membangun jembatan untuk perdamaian.
"Kita tidak dapat membiarkan masyarakat terancam oleh tindakan kriminal kejam atas dasar siapa mereka dan atas dasar apa yang mereka percayai," ucap Ban Ki-moon, menegaskan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pertemuan Aliansi Peradaban PBB dan slogan kesatuan dalam keberagaman yang diusungnya berarti penting bagi Indonesia.
"Karena lokasi strategis Indonesia di antara Samudera Pasifik dan Hindia. Orang-orang Indonesia telah berinteraksi dengan orang-orang peradaban dunia dengan beragam latarabelakang mereka," kata Presiden Yudhoyono.
Presiden menambahkan Indonesia, pada abad ke-21, mampu menunjukkan Islam, demokrasi, dan modernitas dapat hidup berdampingan secara harmonis.
"Jadi saya berdiri di sini hari ini dengan keyakinan mutlak, bahwa jumlah interaksi dan fusi peradaban membuat dunia lebih baik, lebih kaya dan lebih kuat," ujar Presiden.
Aliansi Peradaban PBB dibentuk oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pada 14 Juli 2005. Aliansi itu bertujuan menjembatani jurang antara Islam dan Barat serta membangun kemauan politik dan aksi bersama untuk menghadapi prasangka, mispersepsi, dan menolak ekstrimisme dalam masyarakat.
Aliansi Peradaban PBB itu memiliki empat pilar tindakan yaitu pendidikan, kepemudaan, media, dan migrasi. (*/sun)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menbud Fadli Zon tegaskan posisi Indonesia sebagai peradaban tertua dunia
26 December 2024 16:17 WIB, 2024
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018