Khartoum, (ANTARA/Reuters) - Lebih dari 600 orang telah tewas dalam pemberontakan yang meletus di dua negara bagian Sudan berbatasan dengan Sudan Selatan tahun lalu, kata Menteri Dalam Negeri Sudan Selasa saat mengumumkan perhitungan resmi pertama. Pertempuran antara tentara Sudan dan pemberontak SPLM-Utara pecah di negara bagian penghasil minyak Kordofan Selatan pada Juni 2011, sesaat sebelum Sudan Selatan merdeka. Kekerasan kemudian menyebar pada September 2011 ke dekat negara bagian Nil Biru yang juga berbatasan dengan republik baru Afrika itu. Pertempuran telah memaksa lebih dari setengah juta orang melarikan diri dan memicu ketegangan antara Sudan dan Sudan Selatan, bekas musuh dalam perang saudara yang dipicu oleh minyak, etnis dan agama. Khartoum menuduh Sudan Selatan didukung Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan Utara (SPLM-Utara), namun tuduhan-tuduhan itu diabadaikan oleh pemerintah Selatan. Sebanyak 633 orang tewas di kedua pihak sejak tahun lalu, kata Menteri Dalam Negeri Ibrahim Mahmoud kepada parlemen. Sebagian besar yang tewas adalah warga sipil, dan sisanya adalah tentara pemerintah, katanya, tanpa memberikan perkiraan korban di pihak gerilyawan. Sejak awal tahun ini, 147 orang telah tewas di Kordofan Selatan dan 41 di negara bagian Blue Nile, katanya. Sebanyak 791 orang telah terluka sejak tahun lalu di Kordofan Selatan, dan 151 orang hilang di sana, katanya menambahkan. Sudan Selatan mendeklarasikan kemerdekaan dari Sudan pada Juli tahun lalu, menurut ketentuan perjanjian damai 2005 yang mengakhiri perang saudara. Namun kedua negara masih belum menyepakati kepemilikan sejumlah wilayah yang disengketakan dan tentara mereka masih bentrok beberapa kali melintasi perbatasan sejak pemisahan. Mereka sepakat untuk mendirikan zona penyangga di sepanjang perbatasan bersama mereka bulan lalu setelah mendapat tekanan internasional untuk mengakhiri kekerasan. Tetapi ada kemajuan sedikit dalam pembicaraan paralel tidak langsung antara Khartoum dan SPLM-Utara, yang berperang sebagai bagian dari tentara pemberontak selatan selama perang sipil. SPLM-Utara, yang menuduh pemerintah meminggirkan sebagian besar Kordofan Selatan dan daerah perbatasan lainnya, telah membentuk persekutuan dengan kelompok-kelompok pemberontak lainnya untuk mencoba dan menggulingkan pemimpin veteran Presiden Omar Hassan al-Bashir. (*/sun)