Dahlan dan Sofjan Beda Pandangan Soal Pertumbuhan
Senin, 10 Desember 2012 15:04 WIB
Jakarta, (ANTARA) - Menteri BUMN Dahlan Iskan dan pengusaha nasional Sofjan Wanandi berbeda pandangan soal rekomendasi Komite Ekonomi Nasional yang menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,1-6,6 persen pada 2013.
Dahlan sebagai eksekutif dan Sofjan sebagai pengusaha menjadi pembicara pada seminar "Prospek Ekonomi 2013" yang diselenggarakan KEN di Jakarta, Senin.
Acara yang dibuka oleh Ketua Umum KEN Chairul Tanjung itu juga menghadirkan anggota KEN antara lain Raden Pardede, Aviliani, Christianto Wibisono, Sandiaga Uno, Chris Kanter. Ninasapti Triaswati. Peter Gontha, Erwin Aksa, Syafii Antonio, dan Hermanto Siregar, Purbaya Yudhi Sadewa.
Dalam pidatonya, Sofjan meminta KEN melihat situasi dan praktik di lapangan dalam memberikan rekomendasi target-target pertumbuhan ekonomi kepada pemerintah.
"Jangan hanya menyampaikan rekomendasi tapi juga harus mempertimbangkan berbagai aspek yang ada di masyarakat dan yang dialami oleh dunia usaha," ujar Sofjan.
Sebelumnya Ketua KEN Chairul Tanjung menyebutkan bahwa pada 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berkisar 6,1-6,6 persen, yang terutama didukung oleh konsumsi dari peningkatan belanja rumah dangga dan investasi.
Walaupun terjadi perlambatan di perekonomian global, KEN optimis bahwa ekonomi Indonesia akan lebih baik tahun 2013 tercermin dari keberhasilan menekan laju inflasi sebesar 4,3-4,9 persen, dan nilai tukar rupiah berkisar 9.500 per dolar AS, dan ekspor yang meningkat meskipun dalam jumlah relatif tipis.
"Saya masih ragu terhadap angka-angka tersebut, karena masih ada beberapa hal yang belum diperhatikan KEN," ujarnya.
Empat hal yang harus diselesaikan KEN tersebut diutarakan Sofjan, adalah menyangkut aspek infrastruktur, birokrasi, pertanahan dan kepastian hukum.
"Kalau empat faktor tersebut diselesaikan, jangankan 6,1-6,6 persen, pertumbuhan bisa melebihi angka itu," ujar Sofjan.
Sejauh ini tambahnya, isu-isu tersebut masih menjadi hambatan dalam memajukan ekonomi nasional, karena kebijakan pemerintah sangat tergantung pada masalah politik.
Berbeda dengan Sofjan, Menteri BUMN Dahlan Iskan justru mengacungi jempol terhadap kinerja KEN.
"KEN selalu menggunakan akal sehat dalam menilai kondisi dan prospek ekonomi nasional. KEN selalu menyampaikan apa yang menjadi kenyataan dan yang akan terjadi ke depan," ujar Dahlan.
Dahlan yang sebelum menjadi birokrat merupakan pengusaha media ini, menuturkan bahwa KEN cukup realistis tetapi tidak terlalu optimistis terhadap pencapaian dan target ekonomi Indonesia.
"Saya setuju semua terhadap kajian-kajian dan rekomendasi KEN," ujarnya.
Dalam pidato singkatnya, mantan Direktur Utama PLN ini mengatakan, bahwa ternyata dalam setiap kebijakan pemerintah tidak langsung menunjukkan hasil dalam waktu jangka pendek.
"Banyak hal yang baru disadari sudah dilakukan, namun hasilnya baru bisa diketahui pada 2014, bahkan jauh dari tahun tersebut," ujarnya.
Ia mencontohkan, keputusan pemerintah untuk membangun infrastruktur yang melibatkan BUMN tidak bisa langsung dieksekusi karena terkait dengan APBN.
"Jadi, BUMN itu menjadi tangan kanan pemerintah, dan APBN tangan kiri, yang selalu harus seiring agar memberikan hasil maksimal," ujarnya.
Menanggapi sisi kritis Sofjan, dan pengakuan positif dari Dahlan tersebut, Chairul Tanjung mengatakan bahwa keduanya melihat dari sudut yang berbeda.
"Tentu diperlukan masukan yang berbeda, supaya tetap dalam kondisi yang dinamis dan selalu mawas diri dalam menjalankan perekonomian nasional," ujar Chairul yang juga pengusaha pemilik CT Corporation ini. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026