Logo Header Antaranews Sumbar

20 Kementerian Terlibat dalam Ekspedisi NKRI 2013

Kamis, 6 Desember 2012 15:41 WIB
Image Print

Jakarta, (ANTARA) - Sebanyak 20 kementerian/lembaga akan terlibat dalam tim Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi, yang melakukan penjelajahan, penelitian dan komunikasi sosial di sembilan kabupaten di Sulawesi. "Ke-20 kementerian/lembaga tersebut akan memperkuat Ekspedisi NKRI 2013. Ini ada bobot yang lebih dalam ekspedisi 2013. Ini juga yang membedakan dengan Ekspedisi Bukit Barisan 2011 dan Ekspedisi Khatulistiwa 2012," kata Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang juga selaku Komandan Tim Ekspedisi itu, Mayjen TNI Agus Sutomo, usai Rakor Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi di Makopassus, Cijantung-Jakarta Timur, Kamis. Ke-20 kementerian/lembaga yang terlibat itu, antara lain, Kementerian Koodinator Kesejahteraan Rakyat (Kemenkokesra), Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kehutanan, Kementerian Sosial, Kementerian Perumahan Rakyat, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Menurut dia, ke-20 kementerian/lembaga tersebut bisa langsung melakukan "action" dalam ekspedisi itu, sehingga bisa langsung menyentuh dan dirasakan oleh masyarakat pedalaman. Ia mencontohkan, Kementerian Pekerjaan Umum bisa membangun infrasktruktur jembatan dan sumur bor dalam penyediaan air bersih di pedalaman. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa langsung membantu melakukan perbaikan kelas sekolah yang rusak. Begitu juga, Kementerian Kesehatan bisa memperbaiki puskesmas yang rusak dan menambah tenaga kesehatan bagi puskesmas yang kekurangan. "Namun, upaya-upaya yang dilakukan oleh kementerian dan lembaga itu harus selesai hingga batas yang telah ditentukan. Mereka bisa mulai melakukan aksinya sejak 7 Maret 2013 hingga 4 Juli 2013 (4 bulan) saat ekspedisi dimulai. Diharapkan aksinya tersebut bisa diselesaikan tepat pada waktunya," kata Danjen Kopassus. Ini yang membedakan dengan ekspedisi sebelumnya, di mana hanya melakukan penjelajahan dan penelitian. Ekspedisi kali ini berada dibawah naungan Kemenko Kesra dan hasilnya bisa lebih maksimal serta bisa menyentuh langsung kepada masyarakat pedalaman, ujarnya. Jumlah personel yang terlibat dalam ekspedisi yang dilakukan di sembilan kabupaten di Sulawesi, yakni Kabupaten Kepulauan Sangihe (Sulut), Kabupaten Minahasa (Sulut), Kabupaten Bone Bolango (Gorontalo), Kabupaten Sigi (Sulteng), Kabupaten Luwuk Banggai (Sulteng), Kabupaten Mamuju (Sulbar), Kabupaten Tana Toraja (Sulsel), Kabupaten Gowa (Sulsel), dan Kabupaten Kolaka (Sultra) itu sebanyak 1.450 orang. Sekitar 800 orang personel merupakan anggota TNI, Polri, mahasiswa dan pencinta alam dari pusat, sementara anggota TNI dan Polri serta masyarakat di daerah sebanyak 612 orang, sehingga totalnya diperkirakan mencapai 1.450 orang. Anggota TNI yang dilibatkan, yakni Pusat Sejarah (Pusjarah) TNI, Puspen TNI, Kopassus, Kostrad, Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU, TNI AL, Raider, Marinir AL, Penerbad, Direktorat Zeni AD, Direktorat Topografi AD, dan Pusterad. Jumlah anggota Kopassus sendiri yang dilibatkan hanya 100 orang. Pada ekspedisi pertama jumlah anggota Kopassus sebanyak 240 orang, ekspedisi kedua sebanyak 200 orang, namun kali ini hanya 100 orang. "Pengurangan jumlah anggota Kopassus yang terlibat karena kami harus membagi pengalaman kepada anggota TNI yang lain," tutur Agus. Dalam melakukan ekspedisi ini, tim bisa mendeteksi tentang potensi bencana, sehingga bisa menyosialisasikan kepada masyarakat setempat tentang rawan-rawan bencana. Di tempat yang sama, Deputi I Menko Kesra Willem Rampangilei, mengatakan, tidak ada anggaran khusus dalam melakukan ekspedisi ini, namun anggaran tersebut berasal dari sejumlah kementerian/lembaga yang terlibat. "Anggaran tersebut dari kementerian terkait sesuai dengan program yang mereka miliki. Jadi kita integrasikan dalam program ekspedisi ini. Saya belum tau anggarannya secara rinci," ujar Willem. Ia mengatakan, ada tiga roh dalam ekspedisi kali ini, yakni penjelajahan, penelitian dan komunikasi sosial. Dengan adanya penjelajahan prajurit TNI dan masyarakat lebih mengenal situasi daerah Indonesia, pasalnya Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar. "Ini tidak mungkin bisa kita mendapatkan informasi yang secara rinci. Ini terlihat dari dua ekspedisi sebelumnya banyak temuan-temuan yang luar biasa baik dalam bidang flora, fauna, dan kearifan lokal masyarakat," katanya seraya mengatakan kehadiran ekspedisi ini merupakan perwakilan pemerintah langsung kepada masyarakat, khususnya daerah terpencil yang belum tersentuh. Kedua, penelitian. Di daerah tersebut ada ratusan temuan tersembunyi yang nantinya bisa dikembangkan dan memiliki nilai strategis. Ketiga, komunikasi sosial bertujuan untuk membina silaturahmi antara "person to person", TNI dan masyarakat. "Ini juga dimanfaatkan untuk kegiatan bela negara, memberikan keterangan soal KB, membangun kerukunan, yang selama ini belum dapat dilaksanakan dengan efektif," paparnya. Ekspedisi ketiga berbeda dengan ekspedisi sebelumnya, di mana akan didukung oleh sejumlah kementerian/lembaga yang terkait, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan. Sasaran utama ekspedisi ini meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui tiga kegiatan, penjelajahan, penelitian dan Komsos. Kegiatan lainnya seperti seperti baksos, pengobatan gratis, sunatan massal dan lainnya. Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi ini, tambah dia, akan menjadi kebijakan nasional. Ini akan dilanjutkan pada ekspedisi selanjutnya tahun 2014. Tapi belum diputuskan, apakah akan dilakukan di Papua, NTT atau daerah lainnya, tukas Willem. Waaslog Danjen Kopassus, Letkol Inf Rafael G Baay yang juga komandan operasi ekspedisi mengatakan, tujuan ekspedisi untuk mendata dan meneliti segala potensi di hutan, gunung, rawa, laut, sungai dan pantai, memelihara dan meningkatkan kemampuan prajurit agar memiliki naluri tempur di hutan, gunung, rawa, laut, sungai dan pantai. Selain itu, membangkitkan kesadaran teritorial; memberikan keteladan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian alam melalui program "Green, Clean dan Healthy"; pembangunan infrasktruktur di pedalamam daerah tertinggal; mendata dan meneliti segala potensi geologi serta bencana. "Saat ini masuk dalam tahapan perencanaan. Persiapan mulai dilakukan pada 3 Januari-20 Februari 2013 pelaksanaan ekspedisi mulai dilakukan pada 7 Maret 2013 hingga Juli 2013 dengan melakukan penelitian dan Komsos; kehutanan, geologi, penanggulangan bencana, pulau terdepan, sosbud, flora fauna, baksos, perikanan dan kelautan," katanya. Ia menambahkan, ada beberapa tim yang dilibatkan dalam ekspedisi itu, yakni Tim Kehutanan (Kementerian Kehutanan, IPB, UGM, Wanadri dan anggota Kopassus); Tim ahli geologi dan potensi bencana (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI, Puslitbang Geologi Kelautan, Laboratorium Petrologi dan Mineralogi UNPAD, Pusat Survei Pemetaan Geologi Bandung, Geologi UGM, dan anggota Kopassus). Selain itu, Tim sosial budaya, dibagi tiga yakni tim untuk arkeologi berasal Arkeolog UI; untuk antropologi dari Dosen UI, FISIP UNPAD, dan UGM; dan Psikologi berasal psikolog UNPAD. Tim flora dan fauna berasal dari Puslit Biologi LIPI, Fak Biologi UGM, Undip, FMIPA UNPAD. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026