
Pengamat: Asap Akibatkan Kematian Mendadak Pada Ternak

Padang, (Antara) - Pengamat ternak asal Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand) Padang Dr. Ade Djulardi mengatakan bahwa tingginya intensitas Kabut asap dapat mengakibatkan banyak ternak mengalami kematian mendadak. Menurutnya faktor utama yang menyebabkan kematian ini yakni pada kegagalan dalam sistem pernapasannya. Dia menjelaskan, secara normal hewan ternak atau unggas memiliki cara bernafas yang sama dengan manusia yakni menghirup oksigen dan melepas karbondioksida. Apabila muncul kabut asap yang mengadung partikel- partikel berbahaya seperti karbonmonoksida atau gas metan, kemudian terhirup oleh ternak ini menimbulkan proses sistemik yang berbahaya. Dalam beberapa waktu kemudian hal ini dapat menimbulkan kematian mendadak. Kematian ini terjadi akibat gagalnya saluran pernapasan memperoleh oksigen dan saat proses sirkulasi oleh pembuluh darah. zat beracun yang terhirup itu tersebar ke seluruh tubuh. Bagi jaringan yang tidak kebal terhadap racun ini akan mengalami kerusakan. Dampaknya beberapa organ dalam tubuh semisal paru-paru tidak akan berfungsi dengan baik. Semakin banyaknya gas atau zat berbahaya yang menumpuk ini dapat mempercepat kerusakan dan kematian ini. Itulah sebabnya di beberapa tempat yang terkena kabut asap ini hewan ternak banyak mengalami kematian, imbuhnya. Lebih lanjut kata Ade, Secara garis besar gejala ini hampir sama seperti yang dialami manusia jika mengalami hal serupa. Namun perbedaannya ada pada ketahanan fisik dan sistem kekebalan tubuh. Untuk itu memerlukan langkah preventif untuk mencegah kematian mendadak seperti mengkarantina dengan asupan nutris yang cukup misal untuk sapi atau kuda. Di mana ruangannya cenderung tertutup dan menjauhi kontak langsung dengan udara sumber polusi hingga kabut asap hilang. "Tidak hanya manusia, hewan ternak juga membutuhkan perlindungan terhadap kabut asap ini," ujarnya. Sementara itu dalam kunjungan ke Pasca Unand, Kepala Balai Cagar Alam Lembah Anai Sumatera Barat Agus Suparto mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghapus kabut asap ini yakni dengan guyuran hujan. Guyuran hujan ini tidak hanya untuk sumber titik apinya saja melainkan juga daerah yang mengalami dampak dari kebakaran ini. Kabut asap ini tidak hanya dapat mengancam jiwa manusia dan hewan saja, namun juga tumbuhan. Terutama tumbuhan yang tidak dapat beradaptasi baik dengan keadaan udara buruk. Untuk itu Balai Konservasi, BNPB, satuan keamanan dan masyarakat harus bersama-sama menanggulangi masalah kabut asap ini agar tidak berkepanjangan. Selain tentunya tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, katanya.(**/den)
Pewarta: Inter
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
