
Petani Thailand Marah Karena Tidak Dibayar

Bangkok, (Antara/Reuters) - Ribuan petani Thailand mengancam akan menuju bandara utama di Bangkok dengan traktor mereka pada Jumat untuk memprotes skema subsidi beras yang tidak dibayar, menambah tekanan terhadap Perdana Menteri Yingluck Shinawatra untuk mundur. Program subsidi beras itu merupakan bagian dari kebijakan populis yang dilakukan saudara laki-laki Yingluck, mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, yang menjadi pusat konflik yang membelah Thailand dan memicu protes serta kekerasan yang pernah melumpuhkan Thailand selama beberapa minggu. Belum jelas apakah para petani akan melakukan rencananya menuju bandara dan akan tinggal selama berapa hari, tetapi iring-iringan itu membangkitkan ingatan akan gelombang protes terhadap Thaksin pada 2008 yang menutup akses ke bandara Bangkok dan melumpuhkan pemerintahan dukungan dua Thaksin. "Kami belum pasti apakah akan mendirikan kemah, tetapi kami tidak akan meninggalkan Ibukota hingga kami dibayar atas setiap butir beras yang kami jual," kata mantan anggota parlemen Chada Thaiseth pada Kamis. Media melaporkan bahwa para petani akan berunding dengan Yingluck dan memberinya waktu hingga tengah hari sebelum menuju ke bandara besar berteknologi tinggi yang dibangun di atas rawa penuh ular di utara Bangkok. Program beras sangat rentan untuk dukungan Yingluck di daerah miskin utara dan timur laut. Pemimpin oposisi menyebut skema tersebut banyak dikorupsi dan merugikan pembayar pajak dengan perkiraan 200 miliar baht atau sekitar 6 miliar dolar AS per tahun, sehingga meletupkan protes menentang pemerintahannnya. Yingluck dan pemerintahannya tengah menghadapi penyelidikan oleh panel anti-korpsi atas dugaan ketidakberesan skema subsidi tersebut. Empat pengunjukrasa dan seorang polisi meninggal pada Selasa saat polisi berusaha merebut kembali kawasan yang diduduki pemrotes di dengan gedung perkantoran pemerintah selama beberapa minggu. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
