
Harga Ekspor Karet Bertahan Rendah

Medan, (Antara) - Harga ekspor karet hingga pertengahan Januari 2014 bertahan rendah di kisaran 2,16 dolar AS hingga 2,24 dolar AS/kg akibat permintaan yang sepi dan fluktuasi harga minyak mentah di pasar internasional. "Bukan hanya bertahan rendah, tetapi bahkan tren menurun. Eksportir mulai khawatir meski nilai dolar AS terhadap rupiah masih menguat," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara Edy Irwansyh di Medan, Senin. Pada 13 Januari 2013 misalnya, harga karet SIR 20 di bursa Singapura ditutup 2,169 dolar AS per kg untuk pengapalan Februari. Harga itu lebih rendah dari posisi perdagangan tanggal 10 Januari yang masih 2,200 dolar AS per kg Tren menurunnya harga ekspor otomatis membuat harga jual bahan olah karet (bokar) di pabrikan dalam negeri juga melemah. Kalau sebelumnya harga bokar di pabrikan Rp22.072 hingga Rp24.072 per kg, maka hari Senin (13/1) tinggal Rp 21.238-Rp23.238 per kg. Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Laksamana Adiyaksa menyebutkan, turunnya harga ekspor mengkhawatirkan karena setelah minyak sawit, karet memberikan devisa terbesar pada Sumut. "Kalau harga turun lagi, maka devisa bisa semakin kecil dari 2013.Padahal angka 2013 itu juga lebih rendah dari 2012,"katanya. Berdasarkan data, kata Laksamana, nilai ekspor karet Sumut pada tahun 2013 hingga November turun 11,67 persen atau menjadi 1,931 miliar dolar AS dampak melemahnya harga jual. Periode sama tahun 2012, nilai ekspor masih bisa mencapai 2,186 miliar dolar AS. Penurunan nilai ekspor di 2013, terjadi sejak awal tahun setelah pelemahan harga itu sudah terlihat mulai 2012. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
