
Harga Minyak Bervariasi di Perdagangan Asia -

Singapura, (Antara/AFP) - Harga minyak bervariasi di perdagangan Asia, Jumat setelah turun tajam di perdagangan Amerika Serikat, karena investor menunggu rilis dari data stok minyak mentah AS sementara tetap melakukan pengawasan mengenai gangguan dalam pasokan Irak. Kontrak utama New York, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari turun lima sen menjadi 95,39 dolar dalam perdagangan siang, sementara minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Februari naik 19 sen ke posisi 107,97 dolar. WTI jatuh 2,98 dolar di perdagangan New York Kamis, sementara Brent merosot 3,02 dolar, menyusul berita bahwa ladang-ladang utama Libya diperkirakan kembali ke produksi normal dalam dua atau tiga hari ke depan, yang akan melunakkan permintaan. Seorang juru bicara untuk National Oil Corporation Libya kepada AFP Kamis mengatakan bahwa 330,000 barrel per hari dari ladang El Sharara diperkirakan dapat kembali ke produksi normal dalam waktu dua atau tiga hari. Produksi minyak Libya turun ke kisaran 250.000 barel per hari dari hampir 1,5 juta barel dalam menghadapi tuntutan dari demonstran bersenjata untuk lebih otonomi daerah dan mengatakan lebih besar atas distribusi pendapatan minyak. Desmond Chua, analis pasar pada CMC Markets di Singapura mengatakan terdapat "sentimen positif " seputar stok AS yang besar di mana laporan data dijadwalkan dirilis Jumat malam . Laporan tersebut biasanya dirilis setiap Rabu, tetapi ditunda karena Liburan Tahun Baru. Menurut analis yang disurvei oleh Dow Jones Newswires, perkiraan rata-rata bahwa pasokan minyak mentah turun 2,2 juta barel pekan lalu penurunan berturut-turut ke lima setelah 10 minggu mengalami kenaikan. Chua mengatakan rebound juga kemungkinan akan didukung oleh kekhawatiran tentang ekspor Irak , karena militan membom sebuah pipa minyak utama di wilayah utara negara pada Kamis. Ledakan menghantam pipa, yang merambat ke pelabuhan Turki, Ceyhan di Provinsi Salaheddin di sebelah utara Baghdad , menurut seorang pejabat, yang menambahkan bahwa api telah dapat dipadamkan dan perbaikan telah dimulai. Irak sangat bergantung pada ekspor minyak, dan pemerintah berusaha secara drastis menaikkan penjualan dalam beberapa tahun mendatang untuk mendanai rekonstruksi infrastruktur yang banyak mengalami kerusakan.(*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
