Logo Header Antaranews Sumbar

25 peserta ikuti lokakarya komposisi musik di Taman Budaya Sumatera Barat

Selasa, 19 Mei 2026 17:08 WIB
Image Print
Sekretaris Dinas Kebudayaan Sumatera Barat Fadhli Junaidi (kedua kiri) bersiap memasangkan syal kepada peserta tanda dibukanya Lokakarya Komposisi Musik di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat di Padang, Selasa (19/5/2026). ANTARA/Iggoy el Fitra

Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 25 peserta mengikuti lokakarya komposisi musik digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat dengan tema "Menghidupkan Narasi melalui Akar Tradisi".

Sekretaris Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Fadhli Junaidi mengatakan, lokakarya itu bukan sekadar pelatihan teknis musik, tetapi sebuah ruang pertemuan antara tradisi dan masa depan.

"Di sinilah akar budaya dipertemukan dengan teknologi, bunyi-bunyi tradisi dipadukan dengan perkembangan audio visual modern, sehingga lahirlah karya-karya baru yang tidak kehilangan jati diri," kata Fadhli saat membuka lokakarya di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat di Padang, Selasa.

Menurutnya, tema "Menghidupkan Narasi Melalui Akar Tradisi" mengandung makna yang dalam, bahwa setiap bunyi tradisi sesungguhnya punya cerita, punya ruh, punya nilai, dan punya identitas yang mampu menghidupkan suasana serta membangun emosi dalam sebuah karya pertunjukan maupun film.

Ia menjelaskan, saat ini dunia industri kreatif berkembang sangat cepat, seperti film, tari, teater, konten digital, hingga media pertunjukan modern membutuhkan komposer-komposer yang tidak hanya pandai secara teknis, tetapi juga memahami rasa, suasana, dan akar budaya.

Musik kini bukan lagi sekadar pelengkap visual, tetapi telah menjadi nyawa yang menggerakkan emosi penonton, karena sebuah adegan bisa menjadi kuat karena musik, sebuah cerita bisa terasa hidup karena bunyi, bahkan identitas sebuah karya bisa lahir dari warna musikal yang digunakan, kata Fadhli.

Maka itu lokakarya ini hadir sebagai langkah strategis untuk membangun generasi komposer baru yang mampu membaca perkembangan zaman namun tetap berpijak pada akar tradisi.

Melalui pendekatan practice-based learning, project-oriented composition, dan hybrid scoring system, peserta akan dibimbing untuk mengalami langsung proses kreatif; mulai dari eksplorasi bunyi tradisional, perekaman instrumen, penyusunan motif musikal, sampai proses produksi digital dan penyajian karya.

"Kami berharap para peserta tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi pencipta karya yang memiliki karakter budaya Minangkabau, dan tradisi jangan hanya dijadikan objek nostalgia, tetapi harus dijadikan sumber inovasi," katanya.

Alat musik tradisional seperti talempong, saluang, rabab, gandang, dan berbagai instrumen tradisi lainnya harus mampu hadir dalam wajah baru tanpa kehilangan marwah dan ruh kebudayaannya.

Lokakarya musik itu digelar hingga tiga hari ke depan, yakni mulai 19 Mei sampai 21 Mei 2026 dengan menghadirkan dua narasumber yakni Mohammad Dary dan Indra Ariffin. (*)



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026