Logo Header Antaranews Sumbar

Ketika petugas BKSDA Sumbar kontak langsung harimau sumatra

Selasa, 12 Mei 2026 11:58 WIB
Image Print
Petugas BKSDA Sumbar bersama Tim Pagari Baringin dan Pagari Salareh Aia sedang memasang kamera treap di Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sabtu (2/5/2026). ANTARA/Yusrizal

Lubuk Basung (ANTARA) - Dalam suasana hening, lima orang petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bersama Tim Patroli Anak Nagari (Pagari) dan wartawan Antara Sumbar dikagetkan dengan kedatangan satu individu harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) di Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sabtu (2/5).

Satu individu harimau sumatra keluar dari semak-semak dibelakang para petugas yang saat itu sedang menelusuri jalan perkebunan untuk melakukan penanganan interaksi negatif atau konflik harimau yang sempat mendatangi pasangan suami istri di kebunnya.

Satwa langka dan dilindungi itu, langsung berdiri di jalan perkebunan dengan lebar hanya satu meter dan sekitar jalan ada semak belukar.

Sedang asik jalan, petugas melihat harimau berkelamin betina berada di jalan yang sebelumnya dilalui petugas.

"Bang itu harimau di jalan yang dilewati sebelumnya sedang berdiri melihat ke arah kita," kata salah seorang anggota Pagari Baringin Adeka.

Suasana menjadi mencekam, setelah petugas melihat satu individu harimau sumatra berada di belakang mereka.

Mendapat laporan itu, Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar Ade Putra langsung mendekati harimau dengan jarak hanya 10 meter dan mencoba untuk berkomunikasi.

"Kamu sakit, kalau iya tolong gelengkan kepala dan bakal kami evakuasi untuk diobat," kata Ade Putra.

Petugas BKSDA Sumbar, TNI, Polri, Pagari Baringin, Pagari Salareh Aia dan masyarakat mengevakuasi warga yang didatangi harimau di Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sabtu (2/5/2026). ANTRA/Yusrizal

Harimau langsung merespon dengan menggerakan kepalanya seolah-olah menjawab pertanyaan petugas.

Harimau sumatra tidur di jalan seperti kondisi dalam sakit. Harimau bertahan sekitar 30 menit, sehingga petugas mengabadikan dengan telpon genggam miliknya dan ada melakukan vidio call dengan group milik mereka untuk melihat temuan kepada temannya.

Setelah itu, harimau langsung masuk ke semak-semak dan petugas mencoba untuk mengusir dengan bunyi-bunyian.

Wartawan Antara Sumbar yang ikut menyaksikan kejadian tersebut merasa tegang bercampur haru menyaksikan bagaimana petugas BKSDA berinteraksi dengan satwa dilindungi itu.

Sebelumnya, pasangan suami istri atas nama Samsuir (74), Syafmiati (57) warga Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam didatangi seekor harimau saat baru sampai di kebunnya, Sabtu (2/5) sekitar pukul 10.00 WIB.

Mereka langsung berlindung di dalam pondok tidak jauh dari harimau dan harimau tetap berada di lokasi selama 15 menit.

Setelah harimau pergi, ponakannya atas nama Pendi (40) melewati daerah itu dan menyampaikan ada seekor harimau dengan jarak 30 meter dari pondok.

Mendapatkan laporan itu, Pendi langsung melihat ke lokasi dan harimau tidak ada lagi di lokasi.

Mereka langsung dievakuasi oleh petugas BKSDA Sumbar bersama Bhabinsa, Bhabinkamtibmas, Pagari dan ke rumahnya dengan jarak satu kilometer dari kebunnya.

"Saya gemetaran, karena tidak pernah bertemu harimau di kebun yang diolah selama 15 tahun. Harimau tidak menyerang dan hanya mendekati saya," kata Syafmiati.

Untuk penanganan lanjutan, BKSDA Sumbar memasang kamera treap atau jebak di sejumlah lokasi di Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur.

Keesokan harinya, Minggu (3/5), BKSDA Sumbar memasang kandang jebak untuk mengevakuasi satwa tersebut.

Namun harimau tidak muncul dan bergeser ke lokasi Nagari Matua Hilia, Kecamatan Matur dengan jarak sekitar lima kilometer dari Taruyan, Nagari Tigo Balai.


Sempat kontak dengan petugas

Sedang melakukan penanganan konflik di Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, petugas BKSDA Sumbar mendapatkan laporan bahwa sekelompok warga Matua Katiak, Nagari Matua Hilia, Kecamatan Matua didekati oleh seekor harimau sumatra saat sedang berada di sawah Selasa (5/5) siang.

Mendapatkan laporan itu, petugas BKSDA Sumbar bersama Pagari Baringin dan Pagari Salareh Aia langsung menuju lokasi.

Sesampai di lokasi, harimau berada di pohon pisang tepatnya di pinggir sawah dan langsung dikejar oleh petugas ke lokasi tersebut.

Anak harimau dengan usia sekitar satu tahun tersebut langsung menghindar dan masuk ke lokasi semak-semak.

Beberapa menit setelah itu, harimau kembali muncul di lokasi perkebunan cabai milik warga dengan jarak sekitar 50 meter dari lokasi pertama dan petugas menghalaunya.

Menjelang Shalat Magrib, harimau mengikuti warga yang sedang membawa ternaknya jenis kerbau dari kebun menuju rumahnya.

Melihat ada harimau, salah seorang warga melaporkan kepada petugas BKSDA Sumbar yang sedang berada di lahan sawah warga untuk memantau keberadaan satwa dilindungi tersebut.

Mendapatkan laporan, Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar Ade Putra langsung menuju lokasi dan dalam perjalanan bertemu dengan harimau yang sebelumnya mendatangi warga.

"Saya melihat harimau mengikuti warga membawa kerbau. Melihat ada harimau, saya langsung mendekati dan harimau menyerang, sehingga saya berguling-guling dengan harimau," kata Ade.

Ia mengatakan kondisi itu terjadi selama satu menit dan perlawanan harimau cukup agresif.

Harimau menyerang dirinya namuk tidak mengigit atau tidak mengeluarkan kuku saat menyerang.

Akibatnya, Ade Putra hanya mengalami luka ringan pada bagian kaki sebelah kanan akibat kontak langsung dengan harimau.

Ade membanting harimau ke bagian sisi kanan badangnya, sehingga tubuh harimau terbanting dan selanjutnya lari ke dalam semak-semak. Selanjutnya ade menggiring harimau menjauhi pemukiman warga.

"Ini pengalaman pertama saya kontak fisik langsung dengan harimau di lapangan selama 25 tahun bekerja di Kementerian Kehutanan dan untuk ketemu langsung sudah beberapa kali," katanya


Tips dalam menghadapi harimau

Ade Putra mengatakan saat bertemu dengan harimau, masyarakat diminta agar tidak membelakangi satwa tersebut dan apabila berkelompok, jangan berpisah dari barisan, karena beresiko untuk diserangnya.

Apabila kontak langsung, keluarkan suara cukup kencang berulang-ulang, sampai harimau pergi.

Usahakan membawa kayu untuk perlindungan diri dari serangan harimau tersebut.

"Tetap tenang, tidak menimbulkan gerakan tiba-tiba, segera mencari atau memegang alat perlindungan diri,
mencari tempat berlindung dan segera berkomunikasi untuk meminta bantuan," katanya. (*)



Oleh
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026