Logo Header Antaranews Sumbar

Kementan percepat tanam serentak dukung ketahanan pangan

Kamis, 30 April 2026 12:46 WIB
Image Print
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti dan Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah sedang melakukan penanaman serentak di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Kamis (30/4/2026). ANTARA/Yusrizal

Lubuk Basung (ANTARA) - Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) melaksanakan gerakan tanam serempak seluas 50.000 hektare pada Kamis (30/4), dalam mendukung program ketahanan pangan melalui pencapaian swasembada pangan nasional berkelanjutan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti di Lubuk Basung, Kamis, mengatakan kegiatan tanam dipusatkan di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumbar.

"Kegiatan ini dilaksanakan serentak di berbagai wilayah Indonesia pada lokasi Optimalisasi Lahan (Oplah) pada 2024 dan 2025, lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025, serta lokasi rehabilitasi pascabencana di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara," katanya.

Secara nasional, tambahnya gerakan tanam serentak ini mencakup 25 provinsi dengan total target tanam mencapai sekitar 50 ribu hektare yang tersebar pada lokasi Oplah pada 2024 seluas 20.000 hektare, Oplah 2025 seluas 18.800 hektare, serta CSR 2025 seluas 10.322 hektare, ditambah lokasi rehabilitasi bencana seluas 1.116 hektare.

Gerakan ini menjadi langkah konkret Kementerian Pertanian dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan produktif guna memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung tercapainya swasembada padi secara berkelanjutan.

Selain itu, percepatan tanam juga menjadi strategi antisipasi terhadap dampak perubahan iklim, termasuk potensi El Nino, berisiko menurunkan produksi pangan akibat berkurangnya ketersediaan air dan mundurnya musim tanam.

"Percepatan ini sekaligus dilakukan pada lokasi rehabilitasi pascabencana di sejumlah wilayah di Aceh, Sumbar dan Sumut. Dimana lahan yang telah direhabilitasi didorong untuk segera ditanami kembali agar tidak kehilangan momentum dan dapat kembali produktif dalam mendukung peningkatan produksi pangan," katanya.

Ia mengakui keberhasilan gerakan tanam serentak sangat ditentukan oleh pengawalan di lapangan, khususnya oleh penyuluh pertanian bersama petani.

“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat di lapangan. Penyuluh bersama petani menjadi kunci untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan memberikan hasil optimal,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi bagian penting dalam mendukung percepatan tanam di berbagai wilayah.

“Penggunaan alsintan seperti rice transplanter, drone pertanian, dan dukungan teknologi lainnya akan mempercepat proses tanam, meningkatkan efisiensi, serta membantu petani dalam menghadapi keterbatasan tenaga kerja,” tambahnya.

Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), pemerintah daerah, hingga penyuluh pertanian dan petani di lokasi pelaksanaan.

Gerakan tanam serentak menjadi bagian dari upaya modernisasi pertanian dan regenerasi petani melalui pelibatan generasi muda dalam pembangunan sektor pertanian nasional.

Sementara Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa percepatan tanam serentak menjadi kunci dalam menjaga stabilitas produksi nasional di tengah tantangan global dan iklim.

“Kita harus bergerak cepat. Tanam harus dilakukan serentak agar produksi tetap terjaga. Ini bagian dari strategi kita untuk memastikan kebutuhan pangan nasional tetap aman di tengah dinamika iklim dan global,” katanya.

Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah mengatakan Sumbar mendapatkan alokasi dana dari Kementan Rp228 miliar dan Rp32 miliar untuk memperbaiki lahan sawah rusak ringan 2.800 hektare dan sedang 1.100 hektare tersebar di 10 kabupaten maupun kota.

"Saat ini telah diperbaiki dengan realisasi 60 persen dan sudah tanam 50 persen," katanya.

Dengan penanaman ini, ia berharap ketersediaan pangan bisa terpenuhi, sehingga ketahanan pangan bisa dihadirkan pada 2026.



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026