Logo Header Antaranews Sumbar

Menakar potensi dampak El Nino "Godzilla" di Tanah Minang

Sabtu, 18 April 2026 16:59 WIB
Image Print
Pakar Cuaca dan Iklim dari Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat (Sumbar) Nofi Yendri Sudiar menjelaskan potensi El Nino di Padang. ANTARA/Muhammad Zulfikar

Kota Padang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan tidak ada indikasi fenomena El Nino ekstrem atau yang kerap disebut “Godzilla” akan melanda Indonesia. Meski demikian, sejumlah kementerian, lembaga, serta para ahli tetap mengingatkan adanya potensi perkembangan fenomena tersebut.

Pakar cuaca dan iklim dari Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat, Nofi Yendri Sudiar, menjelaskan bahwa berdasarkan data Climate4Life per 16 April 2026, mulai terlihat indikasi El Nino kuat, dengan skor yang telah mencapai minus delapan.

Secara ilmiah, para ahli umumnya hanya mengklasifikasikan El Nino ke dalam tiga kategori, yakni lemah, moderat, dan kuat. Adapun istilah “Godzilla” yang belakangan beredar di publik lebih merujuk pada prediksi El Nino dengan intensitas yang sangat kuat, di luar kategori umum tersebut.

Ia menjelaskan El Nino merupakan fenomena alamiah atau siklus yang akan terus terjadi di belahan bumi. Fenomena alam ini terjadi karena adanya perbedaan suhu muka laut di Samudera Pasifik. Mulai dari Pasifik Barat di dekat Papua sampai Pasifik Timur yang di Amerika Selatan yang selalu bergeser.

Pada 2026 ia melihat adanya potensi awan-awan hujan berpindah ke arah Amerika sehingga menyebabkan El Nino atau kekeringan di Indonesia. Namun, kekeringan tadi diperkirakan tidak terjadi di semua wilayah Tanah Air.

Beberapa daerah yang berpotensi terdampak El Nino kuat tersebut yakni Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali hingga ke Papua. Sementara, khusus di Sumbar ia memperkirakan tidak akan terdampak langsung oleh El Nino kuat atau yang disebut juga dengan El Nino Godzilla.

"Jadi, hujannya terjadi di Amerika Selatan, sementara kita di Indonesia kekurangan air di udara untuk pembentukan awan-awan hujan sehingga menimbulkan kekeringan," jelas dia.

Prediksi Sumbar tidak terdampak langsung El Nino Godzilla tersebut diperkuat dengan pola musim ekuatorial yang terjadi di Ranah Minang. Daerah yang masuk ekuatorial mengalami puncak musim hujan pada Maret hingga April dan Oktober hingga November setiap tahunnya.

"Pola ekuatorial ini terjadinya di pantai barat Sumatera. Sementara untuk Lampung dan Sumatera Selatan itu sudah masuk ke pola monsun," kata dia.

Bahkan, dalam penelitian dan pengumpulan data yang dilakukannya, Sumbar termasuk daerah dengan intensitas atau memiliki curah yang tinggi dimana dalam sebulan curah hujan bisa mencapai 200 milimeter.

Sementara, fenomena El Nino kuat tersebut hanya akan terjadi di daerah-daerah yang termasuk ke pola monsun seperti Jawa, Kalimantan, Bali hingga Papua. Imbasnya, daerah itu akan mengalami kekeringan dan mesti disiapkan langkah antisipasi.

Dampak El Nino

Musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada 2026 diproyeksikan akan diperparah oleh adanya potensi El Nino kuat. Siklus alam ini tidak hanya mengakibatkan cuaca yang lebih panas namun juga mempengaruhi sektor-sektor lainnya.

Di sektor pertanian, El Nino kuat berpotensi memicu gagal panen karena irigasi dan sumber air mengering. Dampak ini juga dapat mengganggu upaya pemerintah yang tengah mendorong swasembada pangan. Selain itu, El Nino dapat menurunkan kualitas udara, yang pada akhirnya meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan dan penyakit lainnya.

Ia juga mengkhawatirkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seperti yang pernah terjadi pada periode 1997–1998. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi yang tepat dan terukur agar fenomena ini tidak berkembang menjadi ancaman serius.

Meski Sumatera Barat diperkirakan tidak terdampak langsung oleh El Nino ekstrem, ia tetap mengingatkan adanya potensi dampak tidak langsung, terutama jika karhutla terjadi di wilayah seperti Lampung dan Sumatera Selatan.

"Nah, jika terjadi karhutla di Lampung dan Sumatera Selatan paling tidak itu akan mempengaruhi kualitas udara di Sumbar," ucapnya.

Menyikapi potensi El Nino kuat pada 2026, ia mengusulkan sejumlah langkah untuk menekan dampaknya. Pertama, pemangku kepentingan diimbau rutin mengawasi kawasan hutan dan lahan guna mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk menindak praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk tidak membakar sampah sembarangan, terutama saat musim kemarau. Ia juga menyarankan para petani di wilayah rawan terdampak agar menyesuaikan pola tanam, baik dari sisi waktu maupun jenis komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

Secara terpisah, Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Bappenas RI, Medrilzam, saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Padang, mengingatkan pemerintah daerah untuk mengantisipasi potensi El Nino ekstrem pada 2026.

Menurutnya, potensi tersebut mengemuka setelah para ahli meteorologi dunia memperingatkan adanya fenomena yang dapat berdampak luas, terutama pada sektor pertanian.

Selain pertanian, Bappenas juga mengimbau seluruh pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah antisipatif terhadap risiko karhutla dan kekeringan sebagai dampak lanjutan dari fenomena tersebut.

"Kami mohon betul perhatian semua dari level bupati, wali kota hingga kepala desa, ini harus bisa kita antisipasi," imbau Medrilzam.

Bahkan, secara spesifik Bappenas mengingatkan agar kepala daerah di provinsi yang terdampak bencana hidrometeorologi (Aceh, Sumbar dan Sumatera Utara) di akhir 2025, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi El Nino kuat.

Pasalnya, ketiga provinsi tersebut hingga kini masih berada dalam tahap pemulihan dan rehabilitasi pascabencana. Jika El Nino ekstrem turut terjadi di wilayah-wilayah itu, kondisi dikhawatirkan dapat semakin memburuk.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, saat berkunjung ke Kabupaten Padang Pariaman pada 14 April 2026, menegaskan bahwa ketersediaan beras nasional tetap aman di tengah potensi ancaman El Nino kuat.

Ia menyebutkan, per 14 April 2026 terdapat sekitar 4,7 juta ton beras di gudang Bulog. Selain itu, tersedia pula sekitar 12 juta ton beras di penggilingan, serta potensi padi siap panen (standing crop) sekitar 11 juta ton.

Secara akumulatif, pasokan tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan. Sementara itu, musim kemarau 2026 yang berpotensi diperparah El Nino kuat diperkirakan berlangsung sekitar enam bulan.

Mentan juga mengimbau masyarakat agar tidak panik dalam menyikapi potensi El Nino. Di sisi lain, pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait terus menyiapkan langkah antisipatif guna meminimalkan dampaknya, khususnya terhadap sektor pertanian.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menakar potensi dampak El Nino "Godzilla" di Tanah Minang



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026