Logo Header Antaranews Sumbar

Gerilyawan Mali Akui Culik Warga Prancis

Jumat, 23 November 2012 06:55 WIB
Image Print

Bamako, (ANTARA/AFP) - Gerilyawan Gerakan Keesaan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO), salah satu kelompok militan yang menguasai Mali utara, Kamis mengaku bertanggung jawab atas penculikan seorang warga Prancis dua hari lalu. "Kami mengakui tanggung jawab atas penculikan warga Prancis di Mali baratdaya dekat perbatasan Mauritania," kata juru bicara MUJAO Abu Walid Sahraoui, dengan menambahkan bahwa video sandera itu akan segera dipasang. Kelompok itu belum memberikan penjelasan mengenai tuntutan mereka bagi pembebasan sandera tersebut. Rabu malam, MUJAO mengatakan bahwa warga Prancis kelahiran Portugal Jules Berto Rodriguez Leal (61) diculik oleh militan namun tidak menyebutkan kelompok mana yang menahannya. Kantor Berita Mauritania ANI mengatakan, Leal diculik Selasa malam di kota Diema di wilayah Kayes, yang terletak di daerah perbatasan barat Mali dengan Mauritania dan Senegal. Namun, menurut sumber-sumber Prancis, ia diculik di Nioro, jauh ke arah utara lagi. Beberapa sumber keamanan regional mengatakan kepada AFP, pengejaran terhadap penculik Leal terus dilakukan pada Kamis. "Pencarian terus berlangsung. Mali melakukan kontak dengan tetangga-tetangganya, khususnya Mauritania, dimana penculik mungkin membawa sandera itu sebelum mengembalikannya ke Mali utara," kata satu sumber keamanan kepada AFP. Dengan penculikan terakhir itu, 13 orang kini disandera di wilayah utara yang dikuasai kelompok militan setelah kudeta di Bamako pada Maret. Tujuh orang dari mereka adalah warga Prancis. Kelompok garis keras, yang kata para ahli bertindak di bawah payung Al Qaida di Maghribi Islam (AQIM), saat ini menguasai kawasan Mali utara, yang luasnya lebih besar daripada Prancis. Militan garis keras Ansar Dine (Pembela Iman) merupakan salah satu dari sejumlah kelompok terkait Al Qaida yang mengusai Mali utara di tengah kekosongan kekuasaan akibat kudeta militer pada 22 Maret di wilayah selatan. Ansar Dine menguasai Timbuktu, sementara Gerakan Keesaan dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO) memerintah Gao, kota besar lain di Mali utara. Kelompok-kelompok itu memberlakukan sharia di wilayah mereka dan berniat memperluas penerapan hukum Islam itu di kawasan lain Mali. Muslim garis keras itu juga menghancurkan makam-makam kuno Sufi di Timbuktu, yang diklasifikasi UNESCO sebagai lokasi warisan dunia. Mereka menganggap tempat-tempat keramat tersebut sebagai musyrik dan menghancurkan tujuh makam dalam waktu dua hari saja. Mali pada 1 Juli mendesak PBB mengambil tindakan setelah kelompok garis keras menghancurkan tempat-tempat keramat di Timbuktu yang didaftar badan dunia itu sebagai kota yang terancam punah. Pemberontak suku pada pertengahan Januari meluncurkan lagi perang puluhan tahun bagi kemerdekaan Tuareg di wilayah utara yang mereka klaim sebagai negeri mereka, yang diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libya. Kudeta pasukan yang tidak puas pada Maret dimaksudkan untuk memberi militer lebih banyak wewenang guna menumpas pemberontakan di wilayah utara, namun hal itu malah menjadi bumerang dan pemberontak menguasai tiga kota utama di Mali utara dalam waktu tiga hari saja. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026