Logo Header Antaranews Sumbar

Mali Kirim 1.500 Tentara Merebut Pangkalan Gerilyawan

Selasa, 20 Mei 2014 13:19 WIB
Image Print

Bamako, (Antara/AFP) - Mali mengirim 1.500 tentara untuk merebut kembali pangkalan pemberontak di Kidal, kata sumber-sumber militer, Senin, setelah kelompok separatis Tuareg mengepung kantor-kantor pemerintah, yang menimbulkan baku tembak yang menewaskan puluhan orang. Delapan tentara dan 28 gerilyawan tewas dalam pertempuran Sabtu dekat kantor-kantor gubernur sementara 30 karyawan sipil ditahan oleh kelompok itu, kata pemerintah. "Sejumlah 1.500 tentara Mali tiba di Kidal dalam 24 jam belakang ini. Mereka akan terus datang," kata satu sumber militer luar negeri kepada AFP. "Mereka tiba dengan senjata-senjata dan perlengkapan lainnya, banyak orang dan banyak senjata," tambah sumber iru. Seorang pejabat kementerian pertahanan mengonfirmasikan itu, dengan mengatakan jumlah mereka akan meningkat. "Tentara kami akan mempertahankan negara, dengan kekuatan militer, jika perlu," tambahnya. Perdana Menteri Moussa Mara, yang berada di Kidal akhir pekan lalu sebagai bagian dari kunjungan pertamanya ke daerah utara yang rawan sejak pengangkatannya, Ahad mengatakan bahwa pihak gerilyawan "mengumumkan perang di mali". "Kami akan memobilisasi sumber daya manusia untuk melawan perang ini," kata Mara kepada AFP melalui telepon. Bekas daerah jajahan Prancis itu menuntut "pembebasan segera dan tanpa syarat" para sandera itu, seperti juga yang dituntut Amerika Serikat, sementara Albert Koenders, kepala pasukan perdamaian PBB di Mali MINUSMA, mengecam aksi kekerasan itu. "Kami sedang berada di rumah kami dengan tenang. Kami tidak tahu apa yang terjadi dan kami takut," kata seorang penduduk Kidal kepada AFP. Pemerintah Mali menyalahkaan bentrokan senjata pada gerilyawan Tuareg tetapi Mara mengatakan kelompok milisi Islam mengambil keuntungan dari krisis itu "untuk ikut serta dalam kekacauan bersama dengan kelompok-kelompk garis keras lainnya. Ia mengatakan pemerintah sedang berusaha untuk membebaskan para sandera tetapi menambahkan sejumlah dari mereka telah "dibunuh sementara yang lainnya yang dibebaskan karena mereka cedera. Mara mengatakan kantor-kantor gubernur telah diserang oleh "para jihadis, teroris.. dengan tujuan jelas untuk menghancurkan dan membunuh". Pasukan Mali "bereaksi secara layak. Hari ini angkatan bersenjata Mali berada di Kidal,mereka siap menghadapi segala kemungkinan," katanya. Mara menurut rencana akan bertemu dengan para ulama Islam, Senin, kata seorang staf, untuk membicarkan "operasi-operasi lapangan masa depan". Perdana menteri itu menegaskan bahwa Mali akan melancarkan perang terhadap para teroris, bukan para warag Muslim, kata sumber itu. Kidal, 1.500km timur laut ibu kota Bamako, adalah lokasi protes-protes anti-pemerintah oleh ratusan orang Jumat dan Sabtu. Letusan senjata sporadis terdengar Jumat malam, kata seorang pejabat lokal kepada AFP. Presiden Ibrahim Boubacar Keita diperkirakan menjelaskan tentang krisis tindakan itu dalam satu pidato televisi Senin. Menteri Pertahanan Soumeylou Boubeye Maiga mengidentifikasi gerilyawan itu sebagai para anggota separatis Tuareg Gerakan Nasional bagi Pembebasan Azawad (MNLA) yang ia katakan "didukung oleh para anggota kelompok teroris". "Pasukan kami menguasai semua gedung pemerintah kecuali, untuk sementara, kantor-kantor gubernur," katanya. MNLA mengatakan pihaknya menahan direktur daerah Kidal, seorang penasehat gubernur dan 24 tentara, berjanji memberlakukan para sandera secara manusiawi. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026