
Mali dan Gerilyawan Tuareg Berunding

Ouagadougou, (Antara/AFP) - Pihak berwenang Mali dan kelompok gerilyawan Mali, Sabtu, memulai perundingan untuk menyelesaikan konflik di daerah utara agar pemilu nasional yang telah direncanakan dapat diselenggarakan bulan depan. "Tujuan itu adalah untuk mencari satu penyelesaian yang kekal atas krisis yang melanda Mali," kata Presiden Burkina Faso, Blaise Compaore yang menengahi perundingan itu. "Keamanan penting bagi penyelenggaraan pemilu yang bebas dan transparan," katanya. Ia menyerukan penghentian permusuhan antara pasukan pemerintah dan gerilyawan. Ketegangan tetap tinggi di daerah utara setelah pertempuran seru meletus pada Rabu di dekat kota Kidal yang dikuasai gerilyawan, yang menimbulkan kekhawatiran bagi penyelenggaraan pemilihan presiden yang menurut rencana diselenggarakan 28 Juli. Kidal, yang dianggap penting oleh Tuareg, diduduki sejak akhir Januari oleh kelompok gerilyawan Gerakan Nasional bagi Pembebasan Azawad (MNLA) --yang dituduh melakukan "pembersihan etnik" di kota itu. Pertempuran meletus di kota Anefis, selatan Kidal yang menewaskan 30 gerilyawan dan dua tentara Mali cedera, kata pihak militer. Pertempuran itu meletus setelah lebih dari 100 penduduk kulit diusir dari Kidal, sementara banyak yang lainnya ditahan oleh gerilyawan Tuareg yang berkulit lebih cerah dari MNLA dalam satu tindakan yagn dikecam sebagai pembersihan etnik" oleh pemerintah Bamako. Tetapi militer Mali mengumumkan niat mereka untuk merebut kembali Kidal sebelum pemilu di Mali, yang dulu adalah satu model demokrasi di Afrika barat yang kacau sampai satu kudeta Maret tahun lalu. Compaore mengatakan pihak-pihak yang melakukan perundingan di Ouagadougou harus menyetujui mengenai "penegakan kembali pemerintah umum,pelayanan sosial dasar, pasukan pertahanan dan keamanan di Mali utara khususnya di Kidal". Para gerilyawan Tuareg sampai saat ini menolak mengizinkan tentara Mali dan para pejabat memasuki Kidal.Mereka menginginkan pasukan perdamaian PBB mengawasi pemungutan suara mendatang. Compaore bertemu dengan satu delegasi Tuareg Sabtu. Belum ada rencana pertemuan antara kedua pihak. Perundingan di Ouagadougou menurut rencana diselenggarakan akhir pekan, tetapi ditunda pada saat terakhir atas permintaan Bamako, kata Menteri Luar Negeri Burkina Faso Djibrill Bassole. Pertemuan itu bertujuan untuk menghasilkan satu perjanjian sementara pada Senin. Wakil khusus Sekjen PBB Ban Ki-moon untuk Mali Bert Koenders, mengatakan ia tidak yakin pertempuran akan terjadi dekat Kidal. Koenders mengemukakan kepada wartawan di Bamako, Jumat bahwa ia menaruh "harapan besar pada perundingan-perundingan di Ouagadougou". Perundingan di ibu kota Burkina Faso itu menurut rencana berlangsung Jumat, tetapi ditunda pada saat terakhir atas permintaan Bamako, kata satu sumber diplomatik. Kelompok etnik Tuareg yang bersenjata dari MNLA mengangkat senjata untuk menuntut kemerdekaan bagi daerah utara Januari tahun lalu dan menaklukkan pasukan pemerintah, yang menyebabkan para perwira menengah yang frustrasi melancarkan kudeta menggulingkan presiden terpilih Amadou Toumani Toure. Bersama dengan kelompok milisi yang punya hubungan dengan Al Qaida, gerilyawan Tuareg merebut kota-kota penting di utara, tetapi kemudian diusir oleh bekas sekutu-sekutu Islam mereka. Prancis yang pernah menjajah Mali mengirim pasukan Januari untuk menghentikan gerak maju kelompok garis keras ke ibu kota Bamako, dan memaksa mereka meninggalkan kota-kota utama dan lari ke daerah gurun dan gunung untuk bersembunyi. Prancis kemudian mengizinkan MNLA kembali ke Kidal, yang menimbulkan kekhawatiran di Bamako, 1.500 kilometer di barat daya, Paris akan mengizinkan gerilyawan Tuareg tetap menguasai Kidal sebagai bagian dari satu perjanjian bagi pemerintahan sendiri. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
