
Ketua PWI: Wartawan Pilar Keempat Trias Politika

Madiun, (Antara) - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur Achmad Munir menyatakan bahwa wartawan merupakan pilar keempat dari struktur trias politika yang ada di negeri ini. "Disebut pilar keempat, karena meskipun wartawan bekerja di luar struktur, namun ia bisa mempengaruhi keputusan yang diambil oleh ketiga pilar yang ada, yakni legislatif, eksekutif, dan yudikatif," ujar Munir saat silaturahmi Ketua PWI Jatim dengan media dan insan pers dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2014 di Gedung Soenaryo Polres Madiun Kota, Kamis. Dengan kata lain, wartawan memiliki kekuatan yang besar terhadap tiga unsur trias politika dalam menjalankan pemerintahan, katanya. "Kekuatan itu muncul karena wartawan merupakan profesi yang bermartabat. Hanya saja, dalam perkembangannya, banyak profesi wartawan yang disalahgunakan karena tidak kuat dengan kekuatan martabat itu sendiri. Sehingga muncul oknum wartawan yang disebut "wartawan bodrek", "wartawan cuma nanya-nanya (CNN)", ataupun "wartawan tanpa surat kabar (WTS)," katanya. Karena itu, ke depan, tantangan profesi wartawan sangat kompleks seiring dengan kemajuan zaman dan tuntutan masyarakat yang semakin canggih. Munir menyebutkan terdapat empat tantangan utama yang dihadapi wartawan di era saat ini. Yakni yang utama adalah tantangan untuk selalu patuh pada kode etik jurnalistik dan Undang-Undang Pers. Saat ini banyak terjadi degradasi moral dan martabat wartawan sehingga mereka mulai meninggalkan kode etik jurnalistik dan Undang-Undang Pers dalam melaksanakan tugas-tugas peliputan berita. Hasilnya, wartawan tidak lagi independen, berimbang, dan akurat. Tantangan kedua adalah adanya hegemoni atau pengaruh dari kapitalisme. Akibat dari pengaruh tersebut, wartawan dapat menggunakan kekuatannya untuk mengubah fakta. "Bisa saja yang benar menjadi salah dan demikian sebaliknya karena adanya arus kepentingan. Jika hal itu telah terjadi, wartawan harus kembali kepada hati nuraninya untuk menguji kebenaran," kata pria asal Madura tersebut. Tantangan ketiga adalah tindakan kekerasan yang sering mengincar profesi wartawan, sebab dalam bertugas wartawan selalu dihadapkan dengan banyak kepentingan di masyarakat. Sedangkan tantangan keempat adalah intervensi pemilik media yang dapat mempengaruhi kemandirian dari seorang wartawan itu sendiri. Karena itu, untuk menjaga martabat dan profesionalisme wartawan, PWI dan persatuan wartawan lainnya mengadakan uji kompetensi sesuai amanah dari Dewan Pers. Dengan uji kompetensi tersebut akan melahirkan sertifikasi wartawan. "Sejauh ini PWI Jatim telah melakukan uji kompetensi sebanyak enam gelombang. Dengan masing-masing gelombang sebanyak 60 wartawan. Sedangkan secara nasional, PWI telah melakukan uji kompetensi terhadap 7.000 wartawan di seluruh Indonesia," kata Munir. Pihaknya juga mengapresiasi upaya lembaga yudikatif dalam hal ini Polres Madiun Kota yang bersinergi dengan wartawan setempat untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat. Hal tersebut sebagai wujud nyata profesionalisme polisi dan wartawan dalam mengontrol konflik sosial yang ada. "Kerja sama dan kesepakatan tidak hanya dilakukan Polres Madiun Kota dengan wartawan, namun juga dengan komunitas masyarakat lain seperti Paguyuban Pencak Silat Madiun yang menggagas Kampung Pesilat Madiun dan juga warga lainnya hingga tingkat rukun tetangga. Ini akan dilakukan terus ke depan," ujar Kapolres Madiun Kota AKBP Anom Wibowo. Setelah bersilaturahmi dengan wartawan, Ketua PWI Jatim juga dijadwalkan menutup lomba jurnalistik dalam rangka Madiun Kampung Pesilat Adventure Puncak Lawu di Pasar Raya Sri Ratu Madiun. Hadir dalam acara tersebut Forpimda Madiun dan pengurus Paguyuban Pencak Silat Madiun. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
