UIN Bukittinggi dan BKSDA dukung pupuk Herdanic untuk ketahanan pangan

id UIN Bukittinggi,BKSDA Sumbar,Taman Herdanic di Gadut, Agam,Sumbar

UIN Bukittinggi dan BKSDA dukung pupuk Herdanic untuk ketahanan pangan

UIN Bukittinggi dan BKSDA Sumbar meninjau lokasi Taman Herdanic di Gadut, Agam. (ANTARA/Al Fatah)

​​​​​​​Bukittinggi (ANTARA) - Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah 1 Sumbar mendukung produk lokal pupuk cair Herdanic dalam program ketahanan pangan nasional.

"InsyaAllah UIN Bukittinggi membuka Fakultas Saintek atau Fakultas Pertanian Kehutanan. Sehingga hal-hal program ketahanan pangan ini kita mensupport sekali," ujar Wakil Rektor II UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Iiz Izmuddin MA, Jumat.

Herdanic merupakan pupuk organik cair asal Sumbar dinilai bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman.

Untuk melihat proses penggunaan Herdanic dalam program demplot padi organik serta edukasi Herdanic, tim UIN Bukittinggi dan BKSDA Wilayah 1 Sumbar secara bersamaan mendatangi Taman Herdanic di kawasan Gadut, Agam.

Iiz Izzmudin mengatakan, UIN Bukittinggi akan melakukan MoU atau perjanjian kerja sama dengan tim Herdanic yang nantinya diharapkan program-program UIN dalam bidang pendidikan dapat saling mengisi antara teori dan prakteknya.

Sementara itu, Wakil Dekan 2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Bukittinggi Ali Rahman, SH, MH menambahkan, salah satu program dari universitas adalah memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya hal yang bersifat organik.

"Kembali ke alam, sehingga nanti akan terjadi penyadaran-penyadaran, terutama melalui mahasiswa ya, mahasiswa kita yang 13.000 orang itu kita harapkan nanti bisa mengembangkan atau sekurangnya, memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya padi organik," ujar Ali Rahman.

Keseimbangan Ekosistem

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sumbar Antonius Vevri menjelaskan, fungsi dari herdanic ini adalah untuk mengembalikan porositas dari tanah yang terdiri dari bakteri-bakteri yang ada di dalam pupuk majemuk ini.

"Sebagaimana kita ketahui bahwasanya selama ini kita menggunakan pupuk kimia yang bisa menyebabkan asam pada tanah, sehingga porositas tanah akan menjadi lebih padat dan semakin lama sawah-sawah kita di Indonesia ini menjadi lebih dangkal," kata Antonius Vevri.

Menurutnya, dengan porositas yang dangkal, termasuk juga mikroorganisme yang ada di dalamnya akan menjadi mati.

"Kemudian juga cacing juga akan mati karena di media kimia tersebut, tanah menjadi asam," katanya.

Dari faktor lingkungan, menurut Antonius, juga bisa di sorot penggunaan zat kimia atau anorganik di sebuah lahan.

Pada saat terjadi hujan akan mengalirkan residu-residu kimia yang tersisa pada tanah tersebut.

"Mungkin ke kolam mungkin juga ke selokan dan mungkin juga nanti akan sampai ke perumahan dan macam macam. Nah di situ juga ada ikan dan segala macam sehingga akan bisa menyebabkan penyakit," kata Antonius.

Pupuk organik Herdanic menurutnya akan mengembalikan dan membentuk sebuah ekosistem yang seimbang dan semuanya bisa hidup.

"Organismenya hidup, kemudian mungkin juga hewan hewan air yang ada di persawahan itu akan hidup. Dan terjadilah keseimbangan ekosistem di situ," jelasnya.

Dalam hal ini, lanjut Antonius, Herdanic membangkitkan mikroganisme yang mampu juga nanti mengikat hara hara alami dan menghasilkan hara alami sehingga hara yang dibutuhkan oleh tanaman akan bisa dipenuhi.

Pengelola Taman Herdanic, Karmila Sari merasa bersyukur karena Herdanic mulai dilirik banyak pihak. Menurutnya pupuk cair Herdanic bisa membantu petani untuk meningkatkan produktivitas panennya.

Selain biaya yang jauh lebih hemat, penggunaan pupuk organik juga membuat lingkungan menjadi sehat.

"Banyak keuntungan menggunakan organik daripada kimia. Jadi, jangan ragu untuk memulai menggunakannya," jelas Mila.

Jhon Hendri selaku Manajemen Aset menambahkan, saat ini Taman Herdanic masih dalam tahap pengembangan.

"Masih banyak yang harus kami benahi lagi. Nantinya taman ini akan jadi pusat edukasi dan riset bagi semua orang," jelasnya.

Pewarta :
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.