
Askindo: Kapasitas Produksi Kakao 400.000 Ton

Jakarta, (ANTARA) - Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) memperkirakan kapasitas produksi industri kakao hingga akhir tahun mencapai 400.000 ton, meningkat dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar 280.000 ton. "Tahun ini diproyeksikan produksi kakao nasional mencapai 400.000 ton, naik 120.000 ton dari produksi tahun lalu. Aturan bea keluar ekspor biji kakao sejak 1 April 2011 membuat pertumbuhan industri pengolahan kakao di dalam negeri semakin bertambah," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia Piter Jasman, di Jakarta, Senin. Beberapa industri pengolahan kakao, menurut Piter, telah melakukan ekspansi dan pabrik-pabrik pengolahan baru mulai dibangun, salah satunya di Batam. "Sekarang sudah ada 14 industri pengolahan, sejak tahun 2000 ada 40 pabrik dengan kapasitas 300.000 ton, namun menurun drastis menjadi lima pabrik dengan kapasitas 120.000 ton pada 2009 karena beberapa kebijakan yang kurang kondusif. Sejak pemerintah keluarkan aturan bea keluar, pertumbuhan industri pengolahan biji kakao mulai bangkit dan peningkatan konsumsi biji kakao oleh industri dalam negeri menunjukkan kinerja yang positif," paparnya. Sedangkan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi memproyeksikan, pada 2015 sampai dengan 2016, industri hilir kakao di dalam negeri bisa menyerap 750.000 hingga 800.000 ribu ton produksi biji kakao nasional. "Pada saat itu, produksi kakao nasional ditargetkan mencapai 1 juta ton dengan Gerakan Nasional (Gernas) Kakao. Pemerintah juga mengalokasikan sekitar 600.000 ton kakao bisa memasok kebutuhan produk hilir ke pasar ekspor," ujarnya. Bayu menyebutkan, hasil program Gernas sejak tahun 2009 dengan strategi sambung samping akan terasa pada 2015. "Jika industri di dalam negeri bisa menyerap 750.000-800.000 ton, berarti ada porsi ekspor biji kakao sekitar 250.000 ton. Sementara, itu, konsumsi di dalam negeri juga harus terus dinaikkan," tandasnya. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
