Logo Header Antaranews Sumbar

Pemimpin Ideal, Tak Cukup dengan Elektabilitas

Kamis, 14 Mei 2026 20:55 WIB
Image Print
Dosen Pascasarjana Unand  Dr Basril Basyar.MM (Antara/Dokumentasi pribadi)

Padang (ANTARA) - Menarik juga ceramah Rocky Gerung dihadapan mahasiswa Depok belum lama ini. Ia menyampaikan kerisauan dengan pemimpin yang terpilih hari ini.

Hasilnya banyak mengecewakan, karena kualitas dan kapasitas pemimpin yang terpilih tidak sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat.

Menurut pengamat hukum Feri Amsari anggota DPR.RI hari ini, tidak mencerminkan kapasitas dan kualitas yang diharapkan. Ia kritisi dari sisi keragaman tingkat pendidikan.

Proporsi tingkat pendidikan anggota DPR. RI hari ini belum mencerminkan harapan itu karena sekitar 211 orang anggota DPR sekarang tidak jelas riwayat pendidikannya. Sementara berijazah SMA/Sederajat sebanyak 63 orang disusul berpendidikan S.1 sebanyak 155 orang dan S.2 sebanyak 119 orang. Bahkan ada tiga orang yang D.3. Sisanya berpendidikan S.3.

Dengan kondisi anggota dewan seperti itu, Feri meragukan kemampuan anggota DPR.RI dalam melaksanakan tugas, menyerap aspirasi, menganalisis dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Belum lagi dalam membahas undang-undang dan melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan serta memberikan masukan dan sumbang saran terhadap pemerintah.

Ketimpangan seperti ini membuat lembaga DPR.RI tidak berjalan sebagaimana mestinya. Maka lahirlah kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan masyarakat. Apalagi ditambah dengan koalisi partai yang cenderung seperti ( ABS) asal bapak senang.

Terpilihnya kepala daerah yang tidak atau kurang kompeten juga dirasakan hari ini. Patut diduga bahwa terpilih pemimpin hari ini karena berdasarkan elektabilitas semata. Banyak mendapatkan suara dari pemilih akan mewakili masyarakat di lembaga DPR.

Fenomena ini juga berlaku bagi anggota DPRD Provinsi dan kabupaten kota se-Indonesia. Bila masalah ini tidak dikoreksi dan diperbaiki, niscaya jalannya pemerintahan tidak akan lebih baik. Harapan dan tuntutan masyarakat hanya jalan di tempat. Masalah akan terus berulang dan Indonesia makin terpuruk.

Melihat keadaan dan fenomena hari ini, Rocky menawarkan pemikirannya agar pemilihan yang ada sekarang perlu diubah dan dikoreksi dengan harapan terpilih pemimpin berkualitas dan kompeten.

Menurut Ricky sebelum seseorang dipilih berdasarkan elektabilitas, sebaiknya dilihat dulu bagaimana etikabilitasnya. Seseorang yang cacat etika tidak bisa maju sebagai pemimpin publik. Perlu dilihat track record mereka, dimana ia dulu dan bagaimana dinamika kehidupannya.

Apakah pernah melanggar nilai-nilai etik selama menjalankan kehidupan di tengah masyarakat. Kalau ternyata sang calon terkena nilai-nilai etik, otomatis tidak bisa melanjutkan pertarungan di tingkat elektabilitas.

Rocky juga mengusulkan sebelum masuk ke tahapan elektabilitas, seseorang juga perlu masuk ke tahapan intelektualitas. Perlu dinilai apakah seseorang itu memenuhi kriteria sebagai calon yang punya kemampuan intelektual yang mencukupi untuk jabatan publik yang akan diembannya.

Jika kemampuan intelektualitas tidak memadai, maka sang calon tidak dapat melanjutkan ke tahapan pemilihan di tengah masyarakat atau mendapatkan elektabilitas.

Dengan tahapan seperti itu diharapkan terpilihnya seseorang pemimpin akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Secara moral dia lolos, begitupun dengan intelektualitas dan elektabilitas.

Berdasarkan pernyataan-pernyataan Rocky Gerung dalam beberapa kali ceramah, ia selalu konsisten menekankan bahwa kriteria utama dalam memilih pemimpin harus dimulai dari etikabilitas (moralitas/integritas) dan intelektualitas bukan hanya sekadar elektabilitas.

Dalam pandangannya, jika seorang pemimpin gagal dalam filter etika dan intelektualitas, elektabilitas tidak perlu dipertimbangkan. Ia sering menekankan perlunya narasi etika dan moral untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai konstitusi.

Dosen Pascasarjana Unand



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026