Logo Header Antaranews Sumbar

Gubernur Lemhannas: Pengamalan Pancasila Terus Memudar

Kamis, 24 Oktober 2013 13:08 WIB
Image Print
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Budi Susilo Soepandji. (Antara)

Jakarta, (Antara) - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Budi Susilo Soepandji mengatakan saat ini pemahaman, pemaknaan dan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara terus memudar. "Bahkan, ada pihak-pihak yang berupaya untuk menggantikan Pancasila," kata Gubernur Lemhannas dalam sambutannya pada Seminar PPSA XIX/19 'Revitalisasi dan Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila Guna Membentuk Karakter Bangsa dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional, di Gedung Lemhannas RI, Jakarta, Kamis. Budi enggan menyebutkan pihak-pihak yang ingin menggantikan Pancasila dengan paham yang lebih modern dan radikal tersebut. "Gerakannya tak perlu disebutkan. Itu suatu bentuk radikalisasi yang menghambat dan tidak setuju Pancasila disosialisasikan kembali karena Pancasila dinilai sebagai warisan orde baru, sehingga harus diganti," katanya. Ia menjelaskan, pada era reformasi saat ini, yaitu hadirnya kebebasan yang berlebihan dan melemahnya penegakan aturan karena dianggap mengekang kebebasan menyebabkan timbulnya konflik kerukunan beragama, semakin pudarnya kehormatan terhadap hak asasi manusia, menggunakan kekerasan dalam penyelesaian masalah, pudarnya rasa gotong royong dan semakin meningkatnya gerakan kelompok radikal yang memanfaatkan atribut agama merupakan cerminan dari semakin memudarnya pengamalan nilai-nilai Pancasiala dalam kehidupan masyarakat Indonesia. "Nilai-nilai Pancasila telah mengalami marjinalisasi dan cenderung ditinggalkan," kata Budi. Ke depan, Budi mengharapkan Pancasila harus dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa yang pluralisme dan multikuturalisme dalam menghadapi multikrisis saat ini. Selain itu, dijadikan sebagai sumber dari segala sumber hukum, untuk itu Pancasila harus direvitalisasi sebagai jati diri, karakter dan pemersatu bangsa, sehingga ketahanan nasional dapat terwujud. Ia percaya dengan kadar Ilmu dan pengetahuan, pengalaman serta kinerja para peserta disertai dengan semangat akuntabilitas tinggi, para peserta PPSA ke19 ini akan mampu merumuskan konsepsi strategis sebagai sumbang pikir, agar Pancasila dijadikan sebagai rujukan utama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, Pancasila harus kembali dibudayakan dan diaktualisasikan dalam setiap aspek kehidupan bangsa Indonesia, sehingga dapat kembali memahami dan mengamalkannya dalam pelaksanaan pembangunan dan proses politik, sehingga dapat mewujudkan negara yang demokrasi. Saat ini terus terjadi ancaman-ancaman berupa 'soft power' yang ingin merusak Pancasila. Oleh karena itu, perlu pemikiran yang strategis dan Lemhannas perlu revitalisasi pemahaman tentang Pancasila. Menurut Budi, meski Pancasila mengalami rongrongan luar biasa, namun berdasarkan kajian Lemhannas dan lembaga survei, Pancasila masih merupakan sebagai pemersatu bangsa. "Meski bentuknya masih berupa ekspresi, namun yang mencintai Pancasila cukup besar," ucapnya. Menurut Budi, revitalisasi pemahaman Pancasila bukan merupakan suatu indoktrinasi. Jangan sampai mengukung Pancasila dan hanya Lemhannas, TNI dan Polri yang pinya pancasila. "Perlu kajian strategi Kemendikbud, Kemenag untuk merevitalisasi Pancasila. Lembaga dunia pendidikan, tokoh agama harus ikut membantu melakukan sosialisasi dan memberikan contoh mengamalkan Paancasila," katanya. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026