Logo Header Antaranews Sumbar

Kekerasan di Irak Tewaskan Lima Orang

Rabu, 31 Juli 2013 08:00 WIB
Image Print

Baghdad, (Antara/AFP) - Kekerasan di Irak menewaskan lima orang pada Senin, antara lain empat personel polisi, kata pejabat sementara kelompok sayap Al Qaida mengklaim melakukan serangan tersebut yang menewaskan puluhan orang sehari sebelumnya. Irak dilanda kekerasan terburuk sejak 2008 ketika negara itu baru saja lepas dari konflik sektarian berdarah. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon mengatakan pada Senin bahwa Irak berada "di tepi jurang" sementara Kementerian Dalam Negeri memperingatkan perang saudara. Pada Selasa, pria bersenjata membunuh tiga orang dan melukai dua orang dalam serangan di satu pos di sebelah selatan Baghdad. Sementara itu bom di Provinsi Kirkuk, di sebelah selatan ibu kota, menewaskan seorang polisi dan warga sipil dan melukai empat orang. Serangan datang dari kelompok sayap Al Qaida yang mengklaim melakukan serangan yang menewaskan sekitar 60 orang sehari sebelumnya. Pernyataan itu mengatakan kekerasan yang melanda di ibu kota Irak dan wilayah selatan adalah awal dari kampanye baru yang dijuluki "Pemanenan Tentara". Kelompok itu mengatakan pekan lalu bahwa serangan berani pada dua penjara Irak menandai akhir dari kampanye sebelumnya, yang disebut "Breaking Walls". Setidaknya 53 orang tewas dalam serangan dan lebih 500 tahanan termasuk anggota senior Al Qaida melarikan diri. "Irak berada di persimpangan jalan," kata Sekjen PBB seperti dikutip dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicaranya Senin. "Pemimpin politik memiliki tanggung jawab yang jelas untuk membawa negara kembali dari jurang, dan untuk meninggalkan tidak ada ruang bagi orang-orang yang berusaha mengeksploitasi kebuntuan politik melalui kekerasan dan teror," ujarnya. Kementerian Dalam Negeri Irak dalam pernyataanya mengatakan bahwa negara itu menghadapi perang terbuka yang dilancarkan pasukan yang berniat untuk membuat kekacauan dan mereproduksi perang saudara. Irak dilanda sektarian berdarah Sunni-Syiah yang memuncak pada 2006-2007, ketika ribuan orang tewas karena afiliasi agama mereka atau dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka di bawah ancaman kematian. Pada kekerasan terakhir, lebih dari 820 orang tewas pada bulan ini, dan lebih dari 3.000 sejak awal tahun, menurut angka yang dikumpulkan kantor berita Prancis AFP berdasarkan sumber keamanan dan kesehatan. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026