
ICW Gelar Sekolah Antikorupsi

Jakarta, (Antara) - Indonesia Corruption Watch resmi membuka Sekolah Anti-Korupsi atau "Sakti" angkatan pertama selama sebelas hari di Puncak, Jawa Barat. Sebanyak dua puluh peserta yang berhasil lolos seleksi dan berasal dari seluruh Indonesia mengikuti pendidikan antikorupsi tersebut yang bertujuan agar para peserta mengetahui instrumen antikorupsi dan praktik korupsi di berbagai sektor, kata Program Officer Sakti Lydia Agustina di kantor ICW Jakarta, Senin. "Para peserta Sakti ini disiapkan untuk menjadi agen-agen baru anti-korupsi," katanya. Lydia menjelaskan bahwa para peserta Sakti diajarkan agar mampu menggunakan instrumen anti korupsi dan keahlian khusus dalam melakukan kegiatan pemberantasan korupsi, serta mampu melakukan investigasi dan advokasi pemberantasan korupsi. Pada kesempatan yang sama Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi M. Busyro Muqoddas menyatakan dukungannya pada ICW untuk memberikan pendidikan anti-korupsi ini. "Anak-anak muda seperti ini merupakan invenstasi SDM ke depan, tentu juga perlu ruang bergerak," ujar Busyro. Busyro juga menyatakan bahwa pendidikan anti korupsi yang diselenggarakan oleh ICW ini merupakan satu kesadaran acara dari ICW dan juga anak-anak muda di daerah untuk mampu menangkap bahwa korupsi adalah musuh bersama. "Nah kesadaran tersebut tidak hanya berada pada level wacana. Selain kesadaran sejarah juga mereka berpikir metodologis," kata Busyro. Beberapa topik dalam kurikulum Sakti adalah; problem hukum pemberantasan korupsi, gerakan sosial antikorupsi, situasi politik jelang pemilu, analisis anggaran, investigasi, keterbukaan informasi publik, korupsi dan gender, serta strategi kampanye anti korupsi. Sakti merupakan program ICW yang dirancang dengan kesadaran bahwa korupsi di Indonesia sudah sangat parah dan mewabahi semua aspek kehidupan berbangsa. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
