Permintaan turun, perajin sangkar burung di Barulak Tanah Datar terus berkurang (Video)

id sangkar burung, berita tanah datar, berita sumbar

Permintaan turun, perajin sangkar burung di Barulak Tanah Datar terus berkurang (Video)

Perajin sangkar burung di Jorong Kapuk Koto Panjang Ponco Nagari Barulak Tanah Datar (Antara/Etri Saputra)

Batusangkar (ANTARA) - Perajin sangkar burung di Nagari Barulak Kecamatan Tanjung Baru Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat terus berkurang akibat beralihnya permintaan pasar dan tingginya harga bahan baku.

Dedi Andra, salah seorang perajin sangkar burung di Jorong Kapuk Koto Panjang Ponco di Barulak Sabtu, mengatakan tingginya harga bahan baku tidak setimpal dengan untung yang didapatkan per satu unit.

"Sehingga banyak perajin sangkar burung di Barulak yang meninggalkan usaha ini dan beralih mencari usaha yang lain," katanya.

Ia mengatakan dulu khususnya di Jorong Kapuk Koto Panjang Ponco usaha sangkar burung menjadi usaha utama selain bertani di masyarakat setempat, usaha itu digeluti semua kalangan remaja hingga dewasa.

Tidak saja bagi warga asli setempat, pendatang yang menikah dengan perempuan disanapun juga ikutan membuat kerajinan untuk pecinta burung itu.

Beragam jenis dan ukuran sangkar burung tersedia didaerah setempat, mulai dari ukuran kecil hingga besar bahkan ada juga yang dibuat dari rotan.

Ia mengatakan semenjak menekuni usaha itu pada 1999, pemasaran sangkar burung di Barulak bisa dikatakan mengisi semua pasar di Sumatera Barat bahkan dikirim ke provinsi tetangga.

Namun dalam beberapa tahun belakangan ini terjadi penurunan pembeli akibat masuknya sangkar burung dari luar daerah seperti Jawa dan Lampung dan membuat daya saing harga pasar semakin ketat.

Selain itu semakin tingginya harga bahan baku pembuatan sangkar burung tidak seimbang dengan harga jual yang didapatkan per satu unitnya.

Sebagai contoh untuk sangkar burung jenis tukuak nasi yang dibuatnya satu unitnya dihargai Rp30.000, sementara harga bahan baku seperti triplek satu lembarnya Rp50.000, belum lagi harga kayu, bambu dan alat mesin.

"Ada untungnya tapi tipis, dua orang bekerja hanya menghasilkan untuk harian satu orang saja," kata Dedi.

Ia mengaku meski di masa pandemi COVID-19 permintaan sangkar burung di pasaran cukup stabil, kebanyakan sangkar burung dikirim ke luar provinsi.

"Sempat tertahan akibat Peraturan Sosial Berskala Besar Besaran (PSBB) sebelumnya, kini penjualan sangkar burung sudah kembali stabil," katanya.

Hal senada juga dikatakan Zul warga Barulak yang menjual sangkar burung di Pasar Kota Payakumbuh bahwa permintaan sangkar burung dikatakan normal dan banyak permintaan ke luar provinsi.



Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar