
Disnak Sumbar Sertifikasi Kandang Sapi Perah

Padang, (Antara) - Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat melaksanakan program sertifikasi kandang sapi perah mulai tahun ini, guna memudahkan pengendalian usaha susu murni yang dikembangkan peternak di provinsi itu. "Program sertifikasi kandang sapi parah memberi manfaat ganda terhadap peternak atau kelompok," kata Kepala Dinas Peternakan Sumbar Erinaldi di Padang, Rabu. Ia menjelaskan, manfaatnya bukan saja untuk pengendalian bagi dinas, tapi memudahkan peternak/kelompok untuk mendapatkan pinjaman modal dari bank, karena sertifikat itu sekaligus sebagai rekomendasi. Selain itu, dapat menjadi dasar untuk diterbitkan sertifikat halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) kalau usaha susu murni sudah berkembang. Sebab, susu murni yang diusahakan kelompok peternak atau perorangan sudah punya produk turunan di antaranya es krim dan jenis lainnya, sehingga perlu ada jaminan higienis dan halal. Ia mengatakan, program sertifikasi kandang sapi perah berlaku bagi perorangan atau kelompok dengan jumlahnya di atas 10 ekor/kandang. Kini sudah tercatat 11 kandang yang disertifikasi baru di sentra Padang Panjang, jumlah ternaknya bervariasi mulai dari belasan sampai puluhan ekor, sebagian besar diusahakan kelompok. Petugas dari Disnak akan terus melakukan sertifikasi di kabupaten dan kota lainnya, sehingga sampai akhir tahun jumlah bertambah meskipun tanpa ditetapkan target. Erinaldi menyebutkan, hingga saat ini produksi susu murni di Sumbar baru sekitar 2.000 liter/hari dengan pemasaran lokal dan Pekanbaru serta Kerinci, Jambi. Pasokan untuk dua daerah di provinsi tetangga itu, 500 liter setiap minggu, tapi yang dominan permintaan dari Pekanbaru, Riau. "Kini jumlah cafe atau usaha masyarakat mengembangkan susu murni di Sumbar, terdata 26 titik tersebar di Kota Bukittinggi, Padang Panjang dan Padang," katanya. Justru itu, ke depan terus di dorong upaya pengembangan sapi perah, terutama kalangan swasta supaya jumlah usaha susu murni semakin banyak. "Pengembangan sapi perah belum ada yang secara murni dilakoni masyarakat, tapi masih dibantu pemerintah daerah peralatan perah atau kompos. Kita ingin mendorong sektor swasta melirik usaha tersebut," katanya. Pengembangan sapi perah, tambah dia, keuntungannya bukan saja dalam menjual susu murni dan anaknya saja, tapi kotoran dan urinnya dapat dijual atau dikembangkan jadi pupuk kompos. Jumlah sapi perah di Sumbar belum sampai 1.000 ekor dan produksinya baru sekitar 2.000 liter/hari, padahal prospeknya cukup menjanjikan. "Sumbar sudah dicanangkan untuk menjadi sentra pangan hewani untuk Indonesia di wilayah Sumatera Bagian Tengah. Maka ke depan perlu dioptimalkan pengembangan sapi perah," ujarnya. Daerah yang prospek untuk menjadi sentra pengembangan sapi perah di Sumbar, di antaranya Padang Panjang, Tanah Datar, Payakumbuh, Solok, Kabupaten Solok, dan Padang serta beberapa wilayah lainnya. (*/sir/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
