Digigit anjing liar, seorang warga Solok Selatan positif rabies

id Rabies,Anjing Gila,Vaksin Anti Rabies,Bahaya Rabies,Dampak Rabies,Berita Solok Selatan

Digigit anjing liar, seorang warga Solok Selatan positif rabies

Ilustrasi vaksinasi rabies (Eka Arifa Rusqiyati)

Padang Aro (ANTARA) - Seorang warga Solok Selatan, Sumatera Barat Wahyu Widodo (33) digigit anjing liar dan setelah dilakukan pemeriksaan hewan tersebut positif terjangkit rabies.

Kepala Bidang Peternakan Ariyus Mora didampingiKasi Keswan Syerlly Octarini, di Padang Aro, Senin, mengatakan setelah menggigit Wahyu Widodo, warga langsung mencari hewan tersebut dan membunuhnya.

"Kami sudah melakukan rapid tes dan hasilnya positif rabies sedangkan kepala hewan tersebut dibawa ke Balai Veteriner Bukittinggi untuk peneguhan hasil labor kami," katanya.

Dia mengatakan pihaknya sudah memberikan rekomendasi supaya Dinas Kesehatan melakukan tindak lanjut terhadap korban gigitan.

Saat ini pihaknya sedang melakukan peninjauan di lokasi sekitar kejadian sebab masih ada anjing yang lepas dan dikhawatirkan sudah tergigit.

Pihaknya akan melihat gelagat anjing liar di sekitar lokasi Wahyu mendapat gigitan tersebut, jika perilaku anjing berbeda dari normalnya akan ditindak lanjuti.

Selain itu katanya, anjing yang menggigit warga tersebut dalam kondisi beranak dan pihaknya masih mencari keberadaannya karena dikhawatirkan sudah tertular melalui air susu.

Dia menjelaskan untuk melakukan eliminasi pihaknya terkendala larangan pemakaian racun sehingga solusi terbaiknya hanya memberikan vaksin.

Sedangkan untuk memberikan vaksin kepada hewan liar membutuhkan biaya yang cukup besar karena hewan tersebut harus ditangkap dulu.

Sejauh ini vaksinasi baru dilakukan terhadap hewan yang berpemilik dan pihaknya sudah mendatangi rumah-rumah yang memiliki hewan penyebar rabies.

Selama 2019 tercatatsudah 1.100 hewan penyebar rabies yang divaksin yaitu anjing, kucing dan kera.

Sedangkan untuk hewan penyebar rabies yang paling tinggi populasinya di Solok Selatan yaitu anjing sebanyak 11 ribu ekor.

Idealnya, seharusnya vaksinasi diberikan terhadap 70 persen dari populasi tetapi kenyataannya hanya 10 persen karena masyarakat enggan memvaksin ternaknya.

Kasus gigitan hewan penular rabies sampai September 2019 sebanyak 156 dan positif rabies dua ditambah satu kejadian baru yang terjadi pada Wahyu.

Pihaknya sudah sosialisasi kalau di wilayah tersebut butuh vaksinasi dan eliminasi tertarget pihaknya bisa datang asalkan personel untuk menangkap disediakan oleh Nagari.

Kakak korban, Eko Irawan mengatakan pada Minggu (27/10) pukul 21.30 WIB Wahyu berencana memasukkan mobil ke garasi dan tiba-tiba ada seekor anjing hitam betina mendekati.

"Saat korban mencoba mengusir anjing tersebut, bukannya lari malah melompat dan menerjang korban dan langsung menggigit lengan korban sampai luka," katanya.

Setelah kejadian tersebut masyarakat langsung mencari anjing tersebut dan ditemukan di tempat warga yang sedang hajatan.

"Di lokasi hajatan, anjing tersebut sempat menyerang warga lainnya dan salah seorang warga (mbah kalipon) tetapi hanya sarungnya saja yang sobek," katanya.

Setelah itu anjing tersebut berhasil ditangkap warga dan dibunuh, bangkai anjing tersebut dibawa ke Dinas Pertanian bidang peternakan dan dinyatakan positif rabies.

Eko berharap Pemerintah Kabupaten Solok Selatan melakukan eliminasi terhadap anjing liar.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Solok Selatan Novirman mengatakan, pihaknya sudah menindak lanjuti korban gigitan anjing tersebut.

"Sudah ditindaklanjuti," ujarnya melalui pesan singkat.(*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar