Peran akademisi diharapkan pemerintah dalam dunia maya

id dunia maya

Seorang remaja mengoperasikan situs jejaring sosial. (FOTO ANTARA SUMBAR/Arif Pribadi)

Pertanyaannya, apakah jumlah distribusi informasi yang demikian besar sejalan dengan nilai informasi? Mengingat informasi yang membanjiri masyarakat adalah informasi negatif. Maka diharapkan peran akademisi dan praktisi bidang komunikasi untuk member
Jakarta, (Antarasumbar) - Peran akademisi dan praktisi bidang komunikasi diharapkan pemerintah dalam membangun pola komunikasi yang baik dalam dunia maya, kata Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rosarita Niken Widiastuti.

Hal tersebut disampaikan pada pembukaan Konferensi Nasional Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Bidang Komunikasi (KNP2K) yang telah diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi, London School of Public Relations (LSPR) Jakarta baru-baru ini, demikian pernyataan yang diterima di Jakarta, Rabu.

Niken yang hadir sebagai pembicara kunci pada konferensi tersebut menekankan pentingnya membangun komunikasi yang baik di dunia maya.

Menurut dia, dalam satu menit penyebaran informasi dalam media sosial twitter sebanyak 3,3 juta dan ada 29 juta informasi disampaikan melalui aplikasi WhatsApp .

"Pertanyaannya, apakah jumlah distribusi informasi yang demikian besar sejalan dengan nilai informasi? Mengingat informasi yang membanjiri masyarakat adalah informasi negatif. Maka diharapkan peran akademisi dan praktisi bidang komunikasi untuk memberikan solusi dari permasalahan ini," kata Niken.

Niken juga menyampaikan, bahwa pola komunikasi di dunia maya saat ini adalah "10 to 90" artinya 10 persen "creator" atau pembuat pesan dan 90 persen "audience" atau penerima pesan.

"Sepuluh orang aktif memberikan informasi dan 90 orang aktif membagikan dan mereproduksi informasi yang terkadang tidak selalu positif," kata dia.

Dia juga menyampaikan fakta internet di Indonesia yang perlu dicermati bersama oleh para akademisi dan praktisi bidang komunikasi guna menyusun solusi yang tepat.

"Fakta internet ini menggambarkan bagaimana kondisi penggunaan internet di Indonesia, bahwa empat dari sepuluh orang aktif di media sosial bisa hidup tanpa telepon seluler paling lama tujuh menit," jelas dia.

Niken menambahkan, bahwa masyarakat mengakses internet rata-rata 8 hingga 11 jam sehari, sementara minat baca masyarakat Indonesia berada pada peringkat ke 60 dari 61 negara dan tingkat membaca koran rata-rata hanya 12 hingga 15 menit sehari.

KNP2K yang digelar oleh LSPR Jakarta bertema "Sinergi Komunikasi Strategis untuk Edukasi Publik" merupakan konferensi nasional pertama yang mensinergikan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Konferensi ini diharapkan membangun sinergi bagi terciptanya pengabdian kepada masyarakat berbasis penelitian serta memberikan pemahaman dalam kajian komunikasi, termasuk memberi solusi bagi masalah di bidang komunikasi, termasuk yang berkembang di sosial media.(*)
Pewarta :
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar