
Daging kelelawar berpotensi tertular penyakit zoonosis
Kamis, 18 Januari 2018 21:25 WIB

dari hasil penelitian biomedis yang dilakukan menunjukkan hewan itu pemakan buah dan pembawa berbagai virus yang berpotensi menjadi penyakit zoonosis
Bogor, (Antaranews Sumbar) - Masyarakat agar tidak mengkonsumsi daging kelelawar karena berpotensi tertular penyakit zoonosis, saran guru besar tetap Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor, Prof drh Agus Setiyono, MS, PhD, APVet.
Hal itu karena kelelawar merupakan binatang pembawa berbagai penyakit zoonosis, yakni penyakit dari hewan yang menyerang manusia," katanya di Bogor, Kamis.
Menurutnya dari hasil penelitian biomedis yang dilakukan menunjukkan hewan itu pemakan buah dan pembawa berbagai virus yang berpotensi menjadi penyakit zoonosis.
Sebagian besar jenis penyakit zoonosis tersebut merupakan jenis virus baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Beberapa jenis virus hasil isolasi dari kelelawar pemakan buah di Indonesia di antaranya "paramyxovirus" jenis baru, Alphaherpesvirus, Coronovirus, Polymavirus, dan yang terbaru Bufavirus.
"Risiko penularan dari kelelawar ke manusia semakin tinggi karena kebiasaan konsumsi daging kelelawar oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia," katanya.
Kelelawar memiliki kemampuan terbang yang dapat melintas batas negara ini yang membuat binatang bertaring itu berperan besar dalam penyebaran virus, atau resevoir utama.
Salah satu daerah di Indonesia yang masyarakatnya terbiasa makan daging kelelawar adalah Tomoho, Sulawesi Utara.
Bagi sebagian masyarakat mengonsumsi daging codot atau kelelawar tersebut sangat istimewa karena sudah menyatu dengan budaya masarakat setempat, dan masyarakat memercayai kelelawar memiliki khasiat untuk mengobati penyakit.
"Bisa disarankan tidak perlu mengonsumsi daging kelelawar karena ada risiko yang harus dibayar mahal," kata Agus.
Agus menambahkan di balik potensi bahaya kelelawar tersebut ada pula hikmahnya, yakni mendorong para ahli untuk belajar bagaimana cara mengisolasi virus yang ada pada binatang itu.
"Ini tantangan bagi para peneliti kalau bisa berhasil mengisolasi, memastikan sampai bisa membuat vaksinnya, ini akan jadi manfaat. Jadi, tidak hanya melihat sisi negatif, tapi juga sisi positifnya," kata Agus.
Sisi positif lainnya, kata Agus, kelelawar memberikan manfaat untuk menebarkan pembenihan berbagai macam tanaman buah seperti durian, dan rambutan, manggis.
"Kelelawar itu memakan buah, kemudian membawa bijinya terbang ke wilayah lain lalu bijinya akan tumbuh bermacam-macam buah dihasilkan dari pembuahan alami yang dilakukan kelelawar," katanya.(*)
Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
