Logo Header Antaranews Sumbar

Sebanyak 13 Nagari di Agam Miliki  Pokdarwis

Minggu, 5 November 2017 17:17 WIB
Image Print
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). (cc)

Lubukbasung, (Antara Sumbar) - Sebanyak 13 dari 82 nagari atau desa adat di Kabupaten Agam, Sumatera Barat telah memiliki kelompok masyarakat sadar wisata (Pokdarwis) dalam mengembangkan objek wisata di daerah itu.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Agam, Jetson di Lubukbasung, Minggu, mengatakan, ke 14 nagari yang telah memiliki Pokdarwis yakni, Nagari Sungai Batang Kecamatan Tanjungraya, Nagari Tiku Selatan Kecamatan Tanjungmutiara, Nagari Balingka Kecamatan Ampekkoto, Nagari Lasi Kecamatan Canduang.

Lalu, Nagari Lawang Kecamatan Matur, Nagari Sungai Tanang Kecamatan Banuhampu, Nagari Matur Mudiak Kecamatan Matur, Nagari Tabek Panjang Kecamatan Baso, Nagari Koto Rantang Kecamatan Palupuh.

Selain itu, Nagari Koto Tinggi Kecamatan Baso, Nagari Duo Koto Kecamatan Tanjungraya, Nagari Koto Malintang Kecamatan Tanjungraya dan Nagari Sitalang Kecamatan Ampeknagari.

"Nagari Koto Malintang Kecamatan Tanjungraya memiliki dua Pokdarwis. Seluruh Pokdarwis itu terbentuk pada 2016 dan 2017," katanya.

Dari 14 Pokdarwis itu, 11 Pokdarwis sudah dikukuhkan dan telah memiliki surat keputusan. Sementara tiga Pokdarwis lainnya belum dikukuhkan dan pengukuhan bakal dilakukan dalam waktu dekat.

Ia menambahkan, keberadaan Pokdarwis ini diharapkan mampu mengembangkan objek wisata di nagari tersebut.

Dalam mewujudkan itu, pihaknya telah memberikan pembinaan kepada kelompok bagaimana cara pengembangan wisata dan melayani pengunjung agar merasa betah saat berada di objek wisata itu.

"Pembinaan telah kita lakukan kepada 13 Pokdarwis tersebut dengan harapan objek wisatanya berkembang dan pengunjung meningkat agar dapat menunjang perekonomian masyarakat," katanya.

Program ke depan pihaknya sedang mendorong agar seluruh nagari di daerah itu membentuk Pokdarwis, karena masih ada sebanyak 105 objek wisata yang belum memiliki Pokdarwis.

Wali Nagari Koto Kaciak, Syaiful Hendri mengatakan, pihaknya akan mencoba mengiring masyarakat membentuk kelompok, karena daerah itu memiliki potensi agrowisata penangkaran burung hantu.

Saat ini, jumlah burung hantu di nagari itu sekitar 1.000 ekor dan pihaknya akan membangun jalan usaha tani di lokasi kandang burung hantu di lahan pertanian warga.

"Dengan pembentukan kelompok masyarakat sadar wisata maka agrowisata penangkaran burung hantu bisa dikembangkan," katanya. (*)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026